Thursday, October 22, 2015

EXO Fanfiction: X.O.X.O

STARRING

  • Yoo Hana
  • Do Kyungsoo
  • Kim Minseok
  • Im Jangmi
  • Bae Suzy
  • Bae Joohyun

Membosankan. Pelajaran terkutuk. Selesaikan saja masalahmu sendiri, matematika! Kucaci maki pelajaran terkutuk itu dalam pikiranku. Aku sedang berada di tengah-tengah murid yang haus akan ilmu matematika, kuakui sebagian dari mereka hanya terlalu bodoh sehingga harus diberikan jam tambahan belajar. Ya – sama sepertiku. Yoo Hana, si bodoh. Setiap sore murid yang nilainya kurang diwajibkan untuk ikut kelas matematika tambahan. Ada juga beberapa murid pintar yang terlalu rajin datang mengikuti kelas ini. Untuk apa? Aku tidak mengerti dan tidak peduli.

Kebosananku memuncak. Aku melayangkan pandangan ke seisi ruangan. Semuanya sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Kurogoh handphone dari saku blazer-ku dan mulai men-scroll notifikasi di Facebook.

Muncul angka satu di notifikasi pesan, lalu kemudian berubah menjadi dua. Aku menekan tombol pesan dan chat box pun terbuka.

‘Annyeong!’

‘Jal jinae…’

Omo omo! Kim Minseok! Aku masih tak percaya bahwa ia mengirimkan pesan untukku. Segera kubalas pesannya ‘Jal jinae! Neo jigeum eodiya? Bogoshipoyo…’

Tidak lama kemudian, handphone-ku kembali bergetar. ‘Aku masih di Seoul. Neo neun?’

“Hana-ya… Ssaem sedang melihat kesini! Awas handphone-mu!” bisik teman sebelahku, Im Jangmi. Namun karena saking serunya menyusun kalimat untuk membalas Minseok, aku pun mengacuhkannya.

“Yoo Hana! Berani juga kau bermain handphone saat jam pelajaran!”

Aku melongo karena kaget. Aish, mengapa bisa sampai ketahuan begini? Kutatap ssaem sambil menggigit bibirku dengan tegang. Aku yakin handphone-ku pasti akan disita olehnya.

“Ini kusita! Nanti kukembalikan saat kelas selesai!” kata Do seonsaengnim dingin.

Pelajaran, tepatnya penyiksaan pun dilanjutkan. Aku merasa seperti tahanan dalam penjara. Pikiranku terus melayang ke percakapanku dengan Minseok barusan. Aish…berapa lama lagi aku akan bebas?

“Baiklah sampai disini materi hari ini. Sampai jumpa di kelas berikutnya,” ucap Do sonsaengnim sembari menebarkan senyum yang digilai seantero siswi di sekolah ini. Kecuali aku. Aku sama sekali tidak tertarik dengannya.

Aku segera membereskan tas dan keluar dari tempat dudukku untuk menghadap ssaem. Sayup-sayup terdengar para siswi sedang berbicara dengan Do seonsaengnim. Lebih tepatnya menginterogasi ssaem.

“Ssaem! Ah, ini kan sudah di luar jam belajar. Apa boleh aku memanggilmu oppa? Do Kyungsoo oppa! Oppa kuliah dimana? Apa aku boleh tahu?” ujar salah satu siswi dengan nada menggoda.

“Apa oppa sudah punya pacar?”

“Ah, aku ingin sekali makan siang dengan oppa! Apa perlu aku buatkan bekal?”

“Oppa tinggal dimana?”

“Oppa, apa oppa bermain kakao? Apa aku boleh minta id-nya?”

“Ah!!! Mengapa oppa begitu tampan?!”

Tampan? Cih, apa mereka sudah buta? Apa yang bagus dari seorang Do Kyungsoo? Aish… Kapan mereka berhenti? Aku hanya ingin mengambil handphone-ku dan pulang. Aku sudah muak dengan sekolah ini, terutama dengan pria berambut coklat yang sedang dikelilingi gadis-gadis itu. Tiba-tiba saja ia berbalik dan menghampiriku.

“Yoo Hana-ssi, maaf membuatmu menunggu…” ucapnya sambil tersenyum tipis. Matanya yang bulat dan besar itu menatapku dengan penuh kelembutan, membuatku bergidik sejenak. Aku mengangguk perlahan sambil menggigit bibirku lalu menundukkan kepala. Entah mengapa aku merasa malu ketika ssaem memandangku seperti itu.

“Chingudeul! Aku ada urusan dengan Yoo Hana. Jadi kurasa, sampai jumpa besok, ne?” balasnya ramah sambil melambaikan tangannya.

“Mwoya? Kajja… Kita pulang saja… Oppa, annyeong!”

“Mwo? Terlihat sangat pribadi sekali jika hanya ingin berbicara berdua dengan Yoo Hana!”

“Babo-ya… Apa kau lupa kalau Yoo Hana baru saja membuat ulah lagi? Handphone-nya disita ssaem!”

Suara penuh protes dari mereka yang tidak puas terdengar semakin jauh dan akhirnya lenyap. Sekarang tinggal aku dan si Kyungsoo yang menyebalkan di kelas.

Aku berdehem untuk mencairkan suasana yang kurasa sedikit canggung. “Ssaem… Apa ssaem sengaja mengurangi fans dengan mengatakan hal seperti itu?” Ssaem membalas pertanyaanku dengan tatapan kebingungan. “Maksudku… Ssaem mengusir mereka. Padahal mereka ingin tahu lebih banyak tentangmu. Mereka bahkan sampai mencelaku. Mengatakan bahwa aku lagi-lagi membuat ulah dan dimarahi olehmu. Tapi aku sudah biasa dimarahi, jadi kurasa hal itu tidak menjadi masalah…” ujarku polos.

“Biasa?” Pria di hadapanku ini tiba-tiba terkekeh. “Kasihan sekali…”

“Hajiman… Hal itu memang benar. Hanya aku yang selalu dimarahi olehmu.” Wajar jika aku dimarahi terus di kelas karena aku memang tidak berniat belajar.

“Anggap saja itu adalah sisi lain dari kasih sayang. Arraso?” jawabnya santai.

Mwoya?! Kasih sayang macam apa yang dimaksudnya? Manusia aneh! “Ssaem, apa aku sekarang boleh mengambil kembali handphone-ku?”

“Apa kau sudah menyesal?”

“Ne, aku menyesal… Jweisonghaeyo…”

“Jeongmal-yo?” tanyanya sambil tersenyum licik lalu membuka handphone-ku.

“Ssaem! Apa yang kau lakukan?! Kembalikan handphone-ku!”

Ssaem mengangkat tangannya tinggi-tinggi, menjauhkan handphone-ku dari jangkauan.

“Ssaem! Geumanhaeyo! Mengapa kau bertindak seperti anak kecil? Kembalikan!”

Tiba-tiba ssaem bergumam, cukup nyaring sehingga dapat kubaca. “Nado bogoshipoyo? Kim Minseok? Neo eui namching ne?”

“Geu…tidak ada hubungannya dengan ssaem…”

“Geurom, aku tak akan mengembalikan handphone-mu…” balasnya dengan senyum mengejek.

Michyeosseo?! Sekarang sudah mulai gelap dan dia masih saja bermain-main seperti ini?! Guru gila!

“Aniyo. Namching anieyo. Sekarang kembalikan handphone-ku!”

“Sudah kuduga. Terlihat sangat jelas dia bukan pacarmu,” sahut pria gila itu sambil mengedipkan sebelah matanya.

Apa dia sedang mencoba untuk menggodaku? Untuk apa dia bertanya jika dia sudah tahu jawabannya. Apa dia memiliki ketidakstabilan mental atau overwork hingga  stress?

“Hana-ssi, narang sagilrae?”

Aku melotot kebingungan ke arahnya. Yakinkan aku bahwa aku tidak salah dengar. Pria idiot ini baru saja menembakku? Sekarang aku benar-benar yakin bahwa dia memiliki ketidakstabilan mental.

“Ssaem… Apa kau sedang tidak sehat? Ataukah terlalu banyak tekanan pekerjaan sehingga pikiranmu kacau begini?” tanyaku seraya meraih handphone-ku dari tangannya.

Ia terkekeh lalu mengacak rambutku. “Aku tunggu jawabanmu di kelas selanjutnya, OK?”

Jantungku memompa begitu cepat seakan sebentar lagi akan meledak. Perutku terasa seperti digelitik dan suhu tubuhku naik seketika. Apa yang ia lakukan? Keterlaluan… Ia sudah lewat batas jika berani menggoda siswinya seperti ini.

“Yah! Yoo Hana! Apa kau mendapatkan kembali handphone-mu?” tanya Jangmi yang ternyata sudah menungguku di luar kelas daritadi.


“Hana-ya… Gwaenchanha? Apa kau dimarahi habis-habisan oleh ssaem?”

“Ssaem… Dia… Dia menyatakan cinta padaku. Dia menembakku…” bisikku terbata-bata, tak berani menatap wajah Jangmi.

“Mwo?! Jinjja?! Geotjimal! Jinjja?! Maldo andwae…” Jangmi terus mengucapkan hal itu berulang-ulang hingga aku harus mencubit mulutnya agar ia bisa diam.

“Dan dia meminta jawabannya di kelas berikutnya…”

“Aku benar-benar kaget ssaem bisa menyukai gadis sepertimu. Tomboy, kasar, tidak peduli akan penampilan… Harusnya ssaem menyukai gadis sepertiku.” Ocehan Jangmi terus terdengar di sepanjang jalan menuju halte bus. Aku berusaha menahan diriku untuk meninggalkannya. Kalau bukan karena dia sahabatku dari kecil, aku benar-benar akan meninggalkannya sekarang juga.

“Lalu…apa jawaban yang akan kau berikan pada ssaem?”

“Mungkin aku akan menolaknya. Mustahil berpacaran dengan pria menyebalkan sepertinya. Belum apa-apa, aku pasti sudah akan mencampakkannya. Lagipula, aku tidak menyukai ssaem. Untukmu saja…”

“Apa kau yakin? Ssaem memiliki begitu banyak fans. Dan jika mereka tahu bahwa ssaem menyatakan cintanya padamu, dan kau tolak, kau akan habis Hana-ya…” balas Jangmi sambil mengarahkan telapak tangannya ke arah leher.

“Mereka tidak akan tahu.”

“Bagaimana jika penolakan darimu itu mempengaruhi nilai ujian?”

“Ssaem tidak akan setidakprofesional itu, Im Jangmi.”

“Darimana kau tahu? Dia sudah terlihat tidak profesional ketika menyatakan cinta padamu. Apa kau tidak tahu bahwa cinta antara guru dan murid dilarang?”

“Aku tidak mencintainya.”

“Kau masih mencintai Minseok?”

Pikiranku melayang ke masa-masa saat middle school, dimana aku dan Minseok masih begitu akrab. Kami selalu mengerjakan tugas bersama, belajar bersama, makan siang bersama, bahkan pulang sekolah bersama. Ya, dengan Jangmi juga tentunya. Minseok pernah mengatakan bahwa ia akan selalu menjaga dan melindungiku dari bahaya. Namun setelah kelulusan, ia menghilang dan tak pernah lagi mengabariku. Kupikir dia pindah ke luar negeri, namun ternyata dia masih di Seoul. Aku sangat ingin bertemu dengannya lagi, melepas rasa rindu yang sudah kupendam selama lima tahun untuknya. Apakah ia juga merindukanku? Apakah ia bahkan menyukaiku?

“Hmm…” anggukku pelan.

Sesampainya di rumah, aku memutuskan untuk segera berendam untuk menghilangkan penat yang sudah kurasakan seharian ini. Kuteteskan sedikit aroma peppermint ke bathtub lalu kemudian mengambil handphone-ku dan membuka Facebook. Minseok sudah offline. Aish…gara-gara guru gila itu, aku kehilangan kesempatan untuk mengobrol dengan Minseok! Aku membalas pesan terakhir Minseok dengan menanyakan dimana ia bersekolah, dengan harapan aku mendapatkan balasan darinya segera. Kuletakkan handphone-ku ke meja kecil di samping bathtub lalu menutup mataku. Kuhirup dalam-dalam aroma peppermint yang dipercaya dapat menurunkan tingkat stress. Apalagi dengan mandi air hangat yang sudah menjadi ritual ketika otot-ototku mulai lelah.

Aku tak dapat lama menikmati ketenangan ini karena pikiranku mulai dikacaukan dengan jawaban yang akan kuberikan besok pada ssaem. Kurasa dia hanya menggodaku. Tidak mungkin dia serius dengan pernyataannya. Guru macam apa yang berani menyatakan cinta pada siswinya? Hanya Do Kyungsoo, si guru gila.

“Hana-ya…” Panggilan eomma membawaku kembali ke alam sadar.

“Ne, eomma,” balasku dari dalam kamar mandi.

“Sudah 1 jam kau di dalam sana. Gwaenchanha?”

“Gwaenchanha, eomma. Aku akan segera keluar…”

“Kau terlihat kurang sehat. Apa kau sakit? Perlukah eomma menelepon wali kelasmu?” tanya eomma dengan cemas.

Andai saja aku benar-benar sakit dan tidak bisa masuk besok… Aku sudah pasti bisa menghindari ssaem.

“Aku hanya kelelahan. Mungkin hanya perlu istirahat, eomma…” Aku memberi senyum tipis pada eomma sambil berganti pakaian tidur.

“Eomma sudah membuatkanmu susu hangat. Jangan lupa diminum sebelum tidur. Aigoo, uri ttal…” Eomma mendekapku lalu menggosok punggungku pelan, membuatku merasa sangat aman dan tenang. Untuk sejenak, aku berharap waktu dapat berhenti dimana aku diam dalam dekapan eomma.

***

“Yoo Hana-ssi! Mengapa kau masih belum bisa? Materi ini sudah seharusnya dikuasai dari dua minggu yang lalu! Bukankah aku sudah mengajarkanmu berkali-kali?!” teriak ssaem membuat jantungku hampir copot.

“Aku…aku…ssaem…pelajaran ini terlalu sulit untukku…”

“Belajarlah lebih giat. Aku yakin kau pasti bisa,” balas ssaem, merendahkan suaranya.

“Ne, gamsahamnida,” jawabku lemas.

Cih. Tidak mungkin ssaem benar-benar menyukaiku. Lihat saja perlakuannya terhadapku. Kasih sayang? Kasih sayang apanya? Sudah jelas aku akan menolaknya hari ini jika memang dia serius akan pernyataannya kemarin. Aku masih berharap dia hanya menggodaku saja.

Seperti biasanya seusai pelajaran guru gila itu dikelilingi oleh para siswi. Tapi kali ini dia menolak mereka dan meminta mereka untuk cepat pulang karena sudah mulai gelap. Aku segera membereskan buku-buku di atas meja dan beranjak keluar dari kelas menyusul Jangmi.

“Yoo Hana-ssi, siapa yang bilang kau boleh pulang?”

Eoh? Apa dia…benar-benar akan menagih jawaban dariku? Aku mematung sejenak, mencoba terlihat setenang mungkin sebelum menghadapinya.

“Yoo Hana-ssi? Apa yang kau lakukan? Aku disini… Mengapa kau menunjukkan bokong seksimu itu ke arahku?”

Mendengar ia berbicara seperti itu, aku segera berbalik dan berteriak ke arahnya, “Ssaem! Aku akan melaporkan kejadian barusan ke kepala sekolah! Kau benar-benar tidak sopan, ya!”

Ekspresi wajahnya berubah datar – sesaat membuat bulu kudukku berdiri karena ketakutan. Ia berjalan pelan ke arahku, sementara aku melangkah mundur – terus hingga tubuhku menyentuh sudut dinding dan tak bisa kemana-mana lagi.

“Mworago? Apa kau tega melihatku kehilangan pekerjaanku?” Ssaem memanyunkan bibirnya sambil meletakkan tangan kirinya ke dinding. Kini wajah kami berjarak hanya beberapa sentimeter. Aku dapat mencium wangi parfum yang maskulin dari kerah kemeja putihnya. Kulit ssaem terlihat sehat dan halus, matanya besar menatapku dengan lembut, bibirnya yang berbentuk hati perlahan tersenyum, lalu tiba-tiba ia terkekeh sambil menundukkan kepalanya.

“Mengapa ssaem tertawa? Apa ada hal yang lucu?” tanyaku sambil cemberut karena merasa ssaem sedang mengejekku.

“Yoo Hana…hal apa darimu yang membuatku bisa tergila-gila seperti ini?”

“Geumanhae…ssaem. Jika kau hanya ingin menggodaku, geumanhaeyo… Jangmi sedang menungguku di luar dan langit sudah gelap. Akan berbahaya jika kami pulang larut…”

“Apa jawabanmu?” tanyanya datar tanpa menggubris kata-kataku barusan.

Kini aku sadar – ssaem tidak bermain-main dengan pernyataannya. Dia benar-benar menyukaiku, menginginkanku. Aku benar-benar tidak ingin menyakitinya tapi…

“Mothaeyo…” jawabku lemas. Matanya yang besar itu semakin membesar mendengar jawabanku. “Aku sudah menyukai pria lain. Mianhaeyo…ssaem… Jeongmal mianhaeyo!” lanjutku sambil menunduk, tak berani lagi menatap wajahnya.

“Pria itu...Kim Minseok?” Wajahnya berubah muram. Ia mundur beberapa langkah, menarik nafas panjang lalu menghembuskannya.

Aku tak berani menjawabnya.

“Geureomyeon? Geu namjaneun neoreul joh-a andago?”

Aku merasa jantungku berhenti berdetak seketika. Kepalaku tiba-tiba saja pusing, seakan dunia berputar di sekelilingku. Apakah Minseok menyukaiku? Tidak ada yang tahu. Aku sendiri bahkan tidak yakin akan hal itu.

“Na…mollaseoyo…”

“Kalian hanya berinteraksi lewat Facebook, bukan? Tampar aku jika aku salah, seharusnya jika dia tertarik padamu, dia akan segera meminta id kakao atau nomor handphone-mu, Hana-ya…”

Entah karena aku sedang sangat sensitif atau hal terkutuk apapun yang sedang kurasakan sekarang, aku menganggap balasan ssaem barusan layaknya ejekan. Kedua tanganku tiba-tiba saja gemetar hebat, kemudian menjalar ke seluruh tubuhku.

“Museun marieyo?!” aku mulai meninggikan suaraku karena geram. “Aku sudah lama tidak bertemu dengannya! Sudah tiga tahun kulalui tanpa kejelasan darinya. Apakah ia pindah ke luar negeri ataukah masih di Seoul? Apa kau pernah merasakan hal seperti itu? Menunggu seseorang yang tidak pasti keberadaannya? Yang bahkan tak pernah mengabarimu? Bahkan kau tak dapat menghubunginya! Apa ssaem bahkan mengerti perasaanku?!” bentakku dengan geram lalu mengambil langkah cepat keluar dari kelas. Tangis yang tak dapat kubendung lagi tumpah seraya aku berjalan menghampiri Jangmi.

“Hana-ya… Museun iliya?” Jangmi segera menarikku ke dalam pelukannya. Aku tak biasa menangis, tapi aku benar-benar sangat terluka dengan kata-kata ssaem tadi. “Gwaenchanha? Jeongmal geogjeongdwae…”

Dalam benakku saat ini, aku hanya ingin kembali ke kamar dan menenggelamkan diriku disana. Aku sudah cukup lelah dengan hari ini.

***

Besoknya sepulang sekolah aku memutuskan untuk bolos kelas tambahan terkutuk itu dan bertemu dengan Minseok. Aku meminta tolong Jangmi untuk merahasiakan ini jika ssaem bertanya. Letak sekolah Minseok cukup jauh dari sekolahku, jadi aku harus naik bus menuju kesana. Kami berjanji akan bertemu di depan gerbang sekolah. Sesampainya di halte bus dekat sekolahnya, aku berlari-lari kecil menuju kesana karena sudah tak sabar ingin bertemu dengannya. Apa dia bertambah tinggi? Apa dia masih segemuk dulu? Apa kulitnya masih lebih putih dariku? Sembari membentuk bayangan Minseok dalam benakku, mataku menangkap sosok pria yang kucari-cari selama ini. Tepat di depanku, Minseok berjalan santai sambil menggenggam handphone di tangan kanannya. Sementara itu di sisi kirinya…ada seorang gadis cantik berambut ikal yang bergelut mesra di lengan kirinya. Mereka sedang tertawa cekikikan seraya berjalan ke arahku. Minseok menangkap tatapanku namun dengan segera aku melempar pandanganku ke arah lain lalu berbalik, berusaha untuk meninggalkan tempat itu dengan segera. Aku tidak siap menghadapinya. Aku tidak siap jika ternyata gadis itu adalah pacarnya. Tubuhku mulai gemetar dan jantungku kembali memompa sangat cepat. Aku harap dia tidak mengenaliku.

“Yoo…Hana?” Suara indah yang selama ini kurindukan. Bahkan namaku terdengar begitu pas ketika ia menyebutkannya. Perlahan aku menoleh ke sumber suara yang agak ragu memanggilku barusan. “Apa kau Yoo Hana?” tanyanya sambil tersenyum ramah. Gadis di sebelahnya pun ikut tersenyum.

“Kim Minseok?”

“Akhirnya kita bisa bertemu, ya… Sudah berapa lama sejak pertemuan terakhir kita? Kurasa…tiga tahun?”

Pikiranku kacau balau. Aku sudah tak mampu lagi mengingat apapun tentangnya. Kakiku goyah, tubuhku serasa akan tumbang sewaktu-waktu.

“Ne…” Hanya jawaban singkat yang dapat kuberikan padanya.

“Ah, amuteun… Perkenalkan, ini Ahn Sohee, pacarku. Dan Hana adalah teman baikku waktu middle school.”

Bayangkan satu jarum menembus kulitmu. Sekarang aku merasakan seribu jarum menembus setiap sudut tubuhku, lalu merobekku tanpa ampun. Aku mematung, tak bergerak. Mendengar Minseok memperkenalkan gadis itu sebagai pacarnya benar-benar menyakitkan. Apalagi ketika gadis itu menyalamiku sambil tersenyum ramah. Kurasakan sesak yang begitu hebat di dadaku. Air mata sudah tak dapat lagi kubendung. Ini saatnya aku pergi.

“Kalian terlihat…baik bersama. Ah, sepertinya aku lupa…aku ternyata ada janji. Mianhaeyo, aku tak bisa berlama-lama. Aku hanya ingin melihatmu setelah sekian lama tidak berjumpa. Geurom…” Kulemparkan senyumam miris pada Minseok sebelum berbalik pergi meninggalkan tempat itu. Sungai kecil yang tak dapat lagi kubendung langsung mengalir deras di wajahku. Aku tidak tahu apa yang akan Minseok pikirkan tentang perjumpaan kami. Aku bahkan tidak mau peduli lagi. Penantianku selama tiga tahun ini sirna, hancur berkeping-keping. Aku hanyalah bagian dari masa lalunya. Dia tak pernah melihatku sebagai seorang gadis, namun hanya sahabatnya. Aku melangkah tanpa arah di sepanjang jalan, membuatku menjadi pusat perhatian karena tangisku yang belum berhenti sedari tadi.

“Yoo Hana-ssi…” Suara yang sangat familiar itu terdengar sangat dekat denganku. Kuangkat kepalaku perlahan. Ssaem…

“Pria seperti apa yang tega menyakiti gadisku hingga seperti ini?” Masih sempat kulihat matanya yang berkaca-kaca sebelum ia menarikku dalam dekapannya. Baru pertama kali aku merasakan kehangatan dan kenyamanan dalam pelukan seorang pria. Tanganku yang tadinya kubiarkan jatuh perlahan naik, membalas pelukan yang diberikannya padaku. Entah berapa lama kami berpelukan hingga ssaem bersuara.

“Jangmi mengatakan padaku bahwa kau pergi ke sekolah Minseok… Jadi kuputuskan untuk membatalkan kelas dan menyusulmu kesini.”

“Ssaem…membatalkan kelas untuk menyusulku? Apa ssaem tidak tahu resikonya jika sampai ketahuan kepala sekolah?”

“Aku tak peduli lagi. Yang kupikirkan saat itu hanya kau. Aku sangat khawatir jika terjadi sesuatu denganmu. Dan ternyata pria itu…”

“Aku baik-baik saja…”

“Kau tidak mungkin baik-baik saja. Jangan pernah katakan kau baik-baik saja saat kau sudah hampir setengah sadar seperti ini, eoh? Aku akan melindungi dan menjagamu…” Kurasakan dekapannya semakin erat.

“Aku akan melindungi dan menjagamu… Minseok pernah mengatakannya padaku. Tapi apa yang ia lakukan?”

“Aku bukan pria brengsek itu. Percayalah padaku, eoh?”

“Aku tidak pernah menyangka bahwa ssaem serius dengan pernyataanmu waktu itu…”

Dia tertawa kecil lalu melepaskanku dari pelukannya. Ia menangkupkan kedua tangannya ke wajahku, “Aku tak mungkin berani menyatakannya jika aku tak serius. Aku benar-benar mencintaimu, Yoo Hana. Dari awal.”

Ia membelai rambutku, memberi ketenangan yang luar biasa padaku. Sekarang aku memang masih belum menyadarinya. Namun suatu saat aku yakin, keberadaan ssaem dalam hatiku…perlahan-lahan akan berubah.















“Yoo Hana! Mengapa rumus sesederhana ini saja tak bisa kau hafal?!” Lagi-lagi ssaem mengeluarkan bentakan mautnya yang membuat satu kelas hening seketika. Ia menatapku dengan matanya yang besar seakan ingin menelanku hidup-hidup.

Sayup-sayup terdengar bisikan dari teman-teman sekelasku. Tentu saja mereka yang berani membicarakanku adalah siswa yang jenius matematika.

“Lagi-lagi dia membuat ulah…”

“Apakah isi kepalanya itu kotoran? Mengapa dia sangat bodoh?”

“Mungkin setiap hari dia hanya makan nasi dan vetsin. Hahaha…”

“Siapa yang menyuruh kalian bicara?!” bentak ssaem lagi seraya menyapukan pandangannya ke seluruh kelas. “Apakah kalian pikir kalian sudah sangat hebat sehingga boleh menertawakan teman kalian seperti itu?! Lanjutkan pekerjaan kalian!”

Apa ssaem baru saja membelaku? Mengapa dia terlihat begitu keren saat marah? Hahaha Yoo Hana, apa kau sudah saking seringnya dimarahi ssaem sampai akhirnya menganggap bahwa ia keren saat marah? Sungguh tragis.

“Dan kau Yoo Hana, kau harus stay setelah kelas usai. Akan ada jam tambahan untukmu.”

MWO? Aish… Menyebalkan sekali. Padahal hari ini drama kesukaanku akan tayang. Apalagi ini episode yang sudah kutunggu-tunggu dari minggu lalu.

***

“Ssaem… Mengapa perlakuanmu terhadapku masih tidak saja berubah? Sebelumnya aku juga selalu dimarahi…” protesku saat kelas bubar. Ia menyandarkan tubuhnya di meja menghadap ke arahku yang sedang menatapnya sinis dari bangku.

“Aku sengaja melakukannya,” balasnya singkat.

“Mworago?” mataku membelalak kaget.

Dia berdehem. “Lagipula…apa kau mau aku memanjakan dan berlaku sebagai pacarmu disini? Bagaimana jika ketahuan oleh siswi-siswi itu? Kau sendiri kan yang akan repot…”

“Museun mariya?”

“Mungkin saja kau akan dikejar-kejar oleh mereka dan diteror? Siapa tahu…” candanya sambil mencubit hidungku.

“Tetap saja ssaem terlalu berlebihan memarahiku. Harusnya ssaem bersikap lebih baik padaku,” sahutku dengan nada protes sambil memanyunkan bibirku.

“Ah, geurigo…apakah kau mau diperlakukan seperti seorang wanita olehku?” tanyanya sambil menaikkan sebelah alisnya, mencoba menunjukkan wajah menggodanya yang malah menurutku menjijikkan.

“Geumanhae… Ssaem terlihat konyol seperti itu,” balasku sambil menahan tawa. “Maksudku cara bicara ssaem seharusnya bisa lebih baik dari sebelum kita pacaran, kan?”

“Jika kau berjanji akan benar-benar belajar dengan giat, aku tidak akan membentakmu lagi.”

“Aku sudah belajar dengan giat. Tapi apa daya jika kemampuan otakku hanya seperti ini?”

“Berarti kau belajar kurang giat,” ujarnya sambil tersenyum dan mengacak-acak rambutku. “Mianhae, Hana-ya… Tapi ini hanya bisa kulakukan kalau kita berdua saja. Arraso?”

“Eung…”

Tangan lembutnya yang mengelus kepalaku… Suara rendahnya yang memanggil namaku… Semuanya berbeda dengan laki-laki yang ada di sekitarku. Ssaem adalah seorang pria dewasa. Kenapa ssaem bisa menyukai gadis sepertiku – seperti yang Jangmi katakan malam itu, aku tomboy, tidak memperhatikan penampilan, bahkan jarang sekali berdandan.

“Ssaem…sudah hampir jam 9. Aku takut eomma khawatir jika tahu aku belum pulang.”

Hari ini Jangmi tidak masuk karena sakit jadi aku bisa tinggal lebih lama bersama ssaem di kelas.

“Aku akan mengantarkanmu pulang. Kau tunggu saja di luar. Aku mau ke kantor guru sebentar untuk mengisi absen dan membereskan beberapa dokumen,” katanya lalu mencium keningku dan beranjak pergi.

Aku pun segera mengambil tas ransel ungu yang tergeletak di atas meja dan berlari kecil menuju halaman sekolah. Eoh? Jam segini masih ada yang belum pulang? Aku memperhatikan seorang gadis berambut pirang yang berjalan semakin dekat ke arahku. Sebenarnya ini agak sedikit menyeramkan karena halaman sekolah hanya diterangi satu lampu jalanan yang remang-remang. Tatapan kami bertemu saat ia sudah cukup dekat berdiri di hadapanku.

“Siapa kau? Apa hubunganmu dengan Do Kyungsoo?” tanyanya kasar.

Siapa gadis ini? Kuperhatikan dia dari atas sampai bawah. Ia mengenakan seragam yang sama denganku. Di sudut kiri vest yang ia kenakan, tergantung papan nama bertuliskan ‘Bae Suzy’. Aku belum pernah bertemu dengannya sekalipun di sekolah. Mungkin karena aku yang terlalu membatasi diriku terhadap pergaulan. Ia terlihat manis dengan poni depan dan pipi merona merah. Tipe gadis yang mampu menaklukkan hati setiap pria dengan kecantikan yang ia miliki. Dan bicara soal pertanyaannya barusan, mengapa ia bisa tahu tentang aku dan ssaem?

“Asal kau tahu, sejak Do Kyungsoo dan kakakku berpacaran dulu, aku sudah menyukainya. Aku berniat masuk ke kelas tambahan ini demi bertemu Do Kyungsoo. Aku tidak akan mundur lagi kali ini. Jawab pertanyaanku! Apa hubunganmu dengan Do Kyungsoo?!”

Teriakannya membuatku mundur selangkah karena terkejut. Jadi, gadis ini adalah adik dari mantan pacar ssaem? Dan dia…menyukai ssaem? Aku tak berniat membuka identitas diriku padanya. Aku tak mau mengambil resiko ketahuan bahwa aku adalah pacar ssaem. Bisa-bisa ia melaporkannya ke kepala sekolah dan tamatlah riwayat kami berdua. Aku menarik nafas dalam-dalam lalu berjalan melewatinya, membiarkan ia berteriak dan memakiku sesuka hatinya. Kini yang kuinginkan hanya berjalan ke pintu gerbang sekolah dan berharap ssaem sudah di luar.

“Hana-ya…”

“Ssaem!” Kelegaan terdengar jelas dalam suaraku saat melihat mobil ssaem di hadapanku. Baru saja aku mau berjalan menuju ke pintu mobil, suara Bae Suzy menghentikan langkahku dan membuat ssaem sedikit terkejut.

“Oppa! Sejak kapan seleramu menjadi sejelek ini?” tanyanya sambil menatap sinis ke arahku. “Yoo…Ha…na… Berbeda sekali dengan mantan pacar oppa dulu. Wajah seperti boneka porselen, tubuh seperti Kim K, dan memiliki otak cerdas. Ah, kudengar Yoo Hana adalah murid terbodoh di kelas oppa. Apa itu benar?”

“Geumanhae, Bae Suzy. Apa yang kau lakukan disini? Darimana kau dapatkan seragam itu?” Kini ssaem sudah turun dari mobil. Ia mengisyaratkanku untuk masuk ke dalam – mungkin mencegahku untuk mendengar lebih banyak lagi hal-hal menyakitkan yang keluar dari mulut gadis itu.

“Wae?! Mengapa oppa selalu menolakku? Apa yang kurang dariku? Bahkan aku sangat mirip dengan eonni! Gadis itu! Tidak ada bandingannya denganku! Apa dia yang memaksamu untuk menjadi pacarnya?!” Teriakannya cukup keras hingga terdengar dari dalam mobil. Aku bersyukur karena ini sudah larut sehingga tidak ada siswa lain yang perlu mendengar keributan ini.

“Bae Suzy! Geumanhae!” tegur ssaem dengan keras. “Sekarang jawab pertanyaanku. Darimana kau mendapatkan seragam ini?”

Suzy tersenyum tipis ke arah ssaem. “Apa siswi sekolah ini tidak boleh mengenakan seragam sekolahnya sendiri?”

“Museun mariya?”

“I’m officially Empire’s student!” seru Suzy tak dapat menyembunyikan keceriaannya yang walau disambut datar oleh ssaem.

“Aku harap kau tak membuat ulah disini…”

***

“Bae Suzy…dia adalah adik dari mantan pacarku, Bae Joohyun.” Ssaem bersuara, memecah keheningan yang sudah berlangsung kurang lebih 15 menit di dalam mobil. Bahkan ssaem tak menyalakan musik atau sejenisnya untuk mengurangi rasa tidak nyaman yang kami rasakan.

“Aku tahu. Dia menceritakannya padaku,” balasku singkat sambil memainkan jari-jariku.

“Apa saja yang ia katakan padamu?”

“Ia menyukai ssaem…”

Untuk sejenak, keheningan kembali merasuki kami. Sebenarnya aku penasaran dengan kakak dari Bae Suzy. Dari apa yang dideskripsikan Suzy tadi, jelas aku sangat bertolak belakang dengan kakaknya. Aku penasaran bagaimana ssaem bisa putus dengannya. Dan satu hal yang membuatku bertanya-tanya – mengapa ssaem bisa menyukai gadis yang sama sekali bertolak belakang dengan mantannya yang seperti malaikat itu?

“Mantanmu itu…”

“Namanya Joohyun. Ia dua tahun lebih tua dariku. Kami bertemu di kelas Calculus and Analysis dimana ia menjadi asisten dosen. Aku yang beberapa bulan kemudian terpilih menjadi asisten dosen pun diminta untuk lebih banyak berinteraksi dengan Joohyun.”

Aku memperhatikan kisahnya dengan seksama, tak sabar dengan kisah selanjutnya.

“Singkatnya, kami berpacaran. Apa yang Suzy katakan tentang kakaknya tadi memang benar. Joohyun adalah wanita yang sempurna. Banyak pria yang mengejarnya, bahkan mencoba merebutnya dariku.”

Mengapa seakan ada yang menghujam jantungku saat ssaem mengatakan bahwa Joohyun adalah wanita yang sempurna? Apakah aku cemburu? Aku tidak seharusnya cemburu. Joohyun adalah bagian dari masa lalu ssaem.

“Dan salah satu dari mereka berhasil. Joohyun bermain di belakangku dengan seorang atlet sepak bola. Aku mengetahuinya ketika tanpa sengaja memergoki Joohyun yang sedang bergelut mesra dengan atlet itu. Joohyun memang boleh terlihat sempurna, namun semuanya hancur ketika ia berani mengkhianatiku. Ia menyia-nyiakan kepercayaanku. Hari demi hari, ia tak pernah lagi menghubungiku. Dan aku juga tak pernah mau mencarinya. Hubungan kami berhenti sampai disana. Tanpa kata.”

“Jadi belum ada kata resmi dari kalian berdua untuk mengakhiri hubungan kalian?”

“Kau tak perlu khawatir, Hana-ya. Bagiku, Joohyun bukan lagi siapa-siapa. Bagiku, hubungan kami sudah berakhir. Bahkan aku tak lagi mengingat kejadian dua tahun lalu itu. Sekarang yang aku pikirkan hanya Yoo Hana,” balasnya seraya tersenyum padaku.

Aku dapat merasakan pipiku memerah sekarang. Oksigen dalam mobil ini seakan tiba-tiba saja berkurang, meninggalkanku sesak karena kebahagiaan yang entah mengapa meluap tiba-tiba.  

“Yang dikatakan Suzy tadi…jangan kau pikirkan lagi, eoh?” Tak terasa kami telah tiba di depan rumahku.

Aku mengangguk tanda setuju. Tiba-tiba ssaem menggeser tubuhnya mendekatiku. Perlahan ia menangkupkan tangan kirinya ke pipiku, membawa wajahku semakin dekat dengannya. Dapat kurasakan hembusan nafasnya yang teratur di pipiku. Aku sadar bahwa ia ingin menciumku.

“Hajima…” Kuletakkan kedua tanganku ke dada bidangnya, mendorongnya ke belakang dengan perlahan. “Aku belum siap… Mianhaeyo…ssaem…”

“Mianhae… Aku terlalu terburu-buru,” jawabnya datar lalu memalingkan wajah ke sisi lain. “Lupakan saja yang barusan terjadi…”

***

“Dilihat dari dekat, kau semakin terlihat berbeda dengan Joohyun eonni. Apa yang membuat Do Kyungsoo mau denganmu? Ah, apakah kau menggunakan ilmu sihir?” ejek Suzy yang kini duduk di depan bangkuku.

Aku mengunci bibirku rapat-rapat, membiarkannya mengejekku sampai ia lelah. Bisikan dari para siswa yang mengaguminya terdengar jelas di telingaku. Suzy dan aku sangat bertolak belakang satu sama lain. Ia cantik, pintar, dan bisa langsung populer di sekolah, padahal ia baru saja masuk. Ia selalu tampak ramah kepada semua orang, lalu ketika mereka sudah tak lagi di hadapannya, ia mengeluarkan wajah tak senangnya yang membuatku muak. Ya, muak karena hidupnya yang penuh drama dan kepura-puraan. Hampir seluruh siswa di sekolah, dari siswa kelas 10 sampai 12 menyukainya. Hari-hari kulewati dengan ejekan dan sindiran darinya yang tak kugubris. Jangmi hampir saja menamparnya waktu itu, tapi tidak jadi karena ada guru yang lewat. Jangmi memang lebih berani dariku dan ia bisa saja mengobrak-abrik wajah Suzy, tapi kutahan agar ia tak terlibat dalam masalah. Sebentar lagi akan ujian akhir dan aku hanya perlu bersabar untuk beberapa waktu. Ssaem menghentikan proses bimbel selama seminggu karena ia diutus ke Jepang untuk seminar guru matematika. Jadi semenjak malam itu, aku sudah tak lagi bertemu, bahkan berkomunikasi dengannya. Ia pun tidak memberitahuku perihal keberangkatannya ke Jepang. Apakah ia benar-benar menganggapku sebagai pacarnya?

“Yah! Bae Suzy! Apa kau bisa berhenti mengoceh?! Kau tahu, kau seperti CD rusak yang terus saja mengulang hal yang sama! SETIAP HARI! Apa bibirmu itu tidak lelah? Haruskah aku menyemprotkan pestisida ke dalam sana agar kau diam?!” Jangmi yang sudah tak tahan lagi dengan ocehan Suzy mengambil penghapus dan melemparnya ke depan.

“Im Jangmi…mengapa kau selalu berbicara dengan nada tinggi kepadaku? Padahal aku bicara pada Hana dengan perlahan,” balasnya sambil melempar senyum mengejek lalu kembali melayangkan tatapannya padaku.

“Kau tahu…saat Kyungsoo berpacaran dengan eonni, hampir setiap hari ia datang ke rumahku. Bahkan kami sering makan malam bersama. Eomma sangat menyukainya dan mengatakan bahwa Kyungsoo adalah calon menantu yang baik. Eonni tidak begitu menyukainya, tapi aku…aku sangat sangat menyukai Kyungsoo.”

“Tapi sayang sekali ssaem tidak menyukai gadis sepertimu. Ka! Jangan ganggu kami! Karago!!!” Jangmi mengusir Suzy sambil melototkan matanya, membuat Suzy agak terkejut dan memutuskan untuk pergi sebelum Jangmi melemparnya dengan benda lain lagi.

“Hana-ya… Kau harus memberitahu ssaem tentang hal ini. Kau tak bisa membiarkan si ular itu mengganggumu terus! Jika kau tidak berani memberitahunya, biarkan aku yang melakukannya.”

***

Besoknya kelas tambahan diadakan kembali karena ssaem sudah pulang. Ia tidak menghubungiku mengenai kembalinya ia dari Jepang. Itu membuatku sedikit kecewa. Apalagi aku mengetahuinya dari Suzy. Hari ini ssaem terlihat lain dari biasanya. Ia tidak lagi memarahiku atau mengomeliku, bahkan saat wajahku murung  seperti ini pun, ia terkesan tidak peduli denganku. Apa ia masih marah tentang kejadian di mobil waktu itu?

“Ssaem... Aku tidak mengerti soal nomor 5. Apa kau bisa membantuku?” tanya Suzy dengan nada memelas. Kulihat ssaem bangkit dari bangkunya lalu menghampiri Suzy. Apa Suzy sengaja melakukannya agar membuatku cemburu?

“Gunakan rumus pythagoras dulu untuk mencari jaraknya. Setelah itu baru gunakan rumus ini,” jelas ssaem seraya menunjuk ke salah satu halaman dari buku paket. Dalam kesempatan itu, Suzy menolehkan kepalanya ke arahku lalu memberikan senyum kemenangan. Perasaanku semakin tak menentu dibuatnya. Apakah aku sudah benar-benar jatuh cinta pada Do Kyungsoo?

Kelas pun usai dan aku segera bersiap-siap untuk bertemu dengan ssaem setelahnya. Namun herannya ssaem tidak memintaku untuk stay sama sekali. Ia malah keluar dari kelas lebih awal dari biasanya.

Jangmi menyikutku, memberi isyarat untuk segera menyusul ssaem. “Hari ini kami akan makan malam di luar. Jadi appa yang akan menjemputku. Hwaiting, Hana-ya!” Dan mataku terus mengikuti Jangmi sampai bayangannya hilang dari pandanganku.

Kakiku sudah mulai lemas karena perasaanku yang berkecamuk ini. Aku berjalan lunglai ke depan gerbang, berharap menemukan mobil ssaem disana. Dan ternyata iya, mobilnya ssaem tepat terparkir di depan gerbang sekolah. Apakah mungkin ia sedang menungguku untuk mengantarku pulang? Aku segera berjalan mendekatinya namun langkah kakiku terhenti ketika mataku menangkap Suzy yang tiba-tiba saja naik ke mobil ssaem. Museun suriya? Mobil merah itu pun berlalu, meninggalkanku dengan air mata yang mulai membasahi pipiku. Do Kyungsoo…mengapa kau tega sekali melakukan ini padaku, eoh? Apa karena aku tak membiarkanmu menciumku? Bahkan jika kau ingin menghentikan semuanya, setidaknya kau harus membicarakannya terlebih dahulu padaku. Bukan malah diam dan mengacuhkanku! Mengapa kau begitu jahat, Kyungsoo-ya?

***

“Yoo Hana…”

Aku mengangkat wajahku menuju suara tersebut. Dalam jarak kira-kira 5 meter, aku mendapati sosok yang sangat kukenal sedang berdiri tepat di depan pintu gerbang. Do Kyungsoo. Aku benar-benar tidak ingin bertemu dengannya sekarang – dengan keadaanku yang seberantakan ini. Mataku merah dan bengkak karena menangis hebat dalam perjalanan pulang tadi. Kuputuskan untuk pura-pura tidak mendengarnya dan mengambil arah berlawanan, memutari rumahku agar aku bisa lewat pintu belakang. Kyungsoo yang menyadari hal itu segera meneriakkan namaku sambil mengejarku. Kuakui aku bukan pelari tercepat di sekolah, oleh karena itu ia berhasil menangkap tanganku.

“Yah! Museun suriya?! Mengapa kau lari dariku, Hana-ya?! Nareul bwa!”

Aku memalingkan wajahku yang sontak membuatnya terdiam. “Sondaejima!” Kulirik tangannya yang masih menggenggam erat pergelangan tanganku. “Sondaejima…” Perlahan ia melepaskan pergelanganku yang mulai memerah.

“Apa kau marah padaku?” tanyanya sambil menunduk, mungkin merasa bersalah atas perbuatannya.

“Nappeun namja… Apa seharusnya aku senang melihat seorang wanita duduk bersamamu di dalam mobil? Apa seharusnya aku senang ketika kau mengacuhkanku sepanjang pelajaran? Atau bahkan…apa aku harus memberi selamat padamu karena kau punya pacar baru yang sifatnya seperti iblis itu?!” Air mata dan emosi berlomba-lomba mengucur keluar dari tubuhku. Aku tak peduli lagi bagaimana wajahku sekarang di hadapannya. Atau apakah kata-kata yang kukeluarkan pantas untuk diucapkan.

“Jadi kau marah karena mengira aku meninggalkanmu untuk gadis busuk itu?” balasnya membuatku berhenti terisak. Ia mendekatkan wajahnya padaku hingga jarak kami hanya tersisa satu jengkal saja. “Apa kau lupa akan janjiku untuk menjaga dan melindungimu? Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Yoo Hana. Apalagi untuk gadis seperti Bae Suzy. Itu konyol sekali…” Matanya menatapku begitu lembut hingga aku mulai dapat mengontrol kembali emosiku.

“Kau bisa saja mencampakkanku karena…karena aku tak membiarkanmu menciumku waktu itu…”

Pria di hadapanku mengeluarkan tawa kecilnya sambil mengacak-acak rambutku. “Babo-ya… Perasaanku tidak mungkin berubah hanya karena hal itu. Kau kira aku pacaran denganmu hanya untuk menciummu? Tadi aku memintanya untuk bertemu denganku di mobil. Lalu aku memutuskan untuk pergi agar tidak dilihat oleh siswa lain. Aku tidak mau menimbulkan gosip bodoh, apalagi dengan Bae Suzy. Kemudian aku memperingatkannya untuk tidak mengganggumu lagi…”

“Darimana ssaem tahu bahwa ia menggangguku sepanjang minggu ini?” celetukku dengan polos.

“Tentu saja aku tahu. Tidak mungkin ia tidak memanfaatkan kesempatan emas mengganggumu ketika aku tidak ada di sekolah.”

“Tapi tetap saja…aku tidak suka melihat ssaem bersama dengan wanita lain. Apalagi dengan Bae Suzy…”

“Yoo Hana…” Ssaem menyodorkan tangannya, mengisyaratkanku untuk meraihnya. Kemudian tiba-tiba ia menarikku cukup kuat untuk jatuh ke dalam pelukannya.

“Aku janji tidak akan pernah membiarkan wanita manapun, kecuali eomma dan kau untuk duduk di samping kursi pengemudi.” Ia menangkupkan kedua tangannya ke wajahku lalu menarikku semakin dekat dengan wajahnya. “Oleh karena itu, kau jangan khawatir lagi, eoh? Mianhae...jika aku sudah menyakitimu…”

Kutatap matanya dalam-dalam, cukup lama hingga membuatku seakan terhipnotis untuk menjinjitkan kakiku agar wajah kami semakin dekat. Dengan perlahan, kusentuh bibirnya yang kemerahan itu dengan bibirku. Kehangatan menjalari seluruh tubuhku. Ciuman pertamaku kulakukan dengan Do Kyungsoo. Dan rasanya begitu indah – aku seakan ingin terus menciumnya. Perasaan yang begitu nyaman…perasaan yang timbul hanya jika ada Do Kyungsoo bersamaku.

“Kau…baru saja menciumku?” tanyanya gugup yang membuatku otomatis tertawa terbahak-bahak.

“Selama ini ssaem yang berusaha untuk menciumku, tapi setelah aku melakukannya, malah ssaem yang terlihat membeku seperti ini! Hahaha…”

Tak berapa lama ia menyusul tertawa lalu memiting kepalaku. “Kau sekarang sudah mulai berani, eoh? Akan kubalas kau, Yoo Hana… Hahaha…”

“Ssaem…lepaskan aku…hahaha…aku tidak bisa bernafas…yah!!! Jangan menarik pipiku terlalu keras! Aphayo!”

“Pipimu benar-benar elastis ya! Hahaha… Hana-ya, mulai sekarang, apa kau bisa tidak memanggilku dengan sebutan ssaem?”

“Baiklah, baiklah. Do Kyungsoo…lepaskan aku!”

“Itu terdengar lebih baik! Hahaha… Tapi aku tetap tidak akan melepaskanmu!”

Malam ini adalah malam terindah dimana aku dapat merasakan arti seseorang di hidupku, yang posisinya kini tak tergantikan di dalam hatiku. Saranghaeyo, Do Kyungsoo.

***


“Sudah sekian lama aku tidak menginjakkan kaki di pantai…” gumamku cukup keras sambil berlari-lari kecil, menikmati angin musim panas yang cukup sejuk siang ini.

Ssaem mengajakku ke pesta bbq salah satu teman kuliahnya di Busan. Awalnya aku menolak karena tidak mengenal teman-temannya, namun ia terus saja membujukku. Akhirnya aku setuju dengan alasan jika ia bersama teman-temannya, aku mungkin bisa melihat sisi lain dari seorang Do Kyungsoo.

“Kyungsoo-ya!” Kami berdua sontak menoleh ke sumber suara. Tak berapa jauh dari kami, sekelompok anak muda dengan penuh semangat melambaikan tangan mereka, menandakan kehadiran mereka disana. Ssaem terlihat sangat bahagia berjumpa dengan teman-temannya – terbukti dengan senyumnya yang terus mengembang hingga ia menghampiri mereka.

“Akhirnya datang juga si jenius ini…” ujar salah satu temannya sambil menepuk bahu ssaem.

“Annyeong, Kyungsoo-ya…” sapa seorang wanita dengan croptop hijau tosca dan celana pendek putih. Untuk seketika aku terpesona akan kecantikannya. Kulitnya yang seputih susu, rambut hitamnya yang dibiarkan terurai sepunggung, kakinya yang jenjang seperti girlband di televisi… Aku membayangkan jika aku berjalan di sampingnya, bisa-bisa mereka mengiraku sebagai pelayan dari wanita itu. Kyungsoo nampak tidak terlalu menghiraukan sapaan itu. Ia hanya melemparkan senyum tipis padanya, lalu kembali mengarahkan pandangan ke teman-temanya yang lain.

“Aish…suasana seperti apa ini? Apa kau sudah lupa dengan Bae Joohyun, eoh? Kau tidak lupa kan masa-masa kejayaanmu dulu?”

Bae Joohyun...bukankah dia…mantan pacar ssaem? Ternyata dia memang secantik yang dideskripsikan adiknya. Bahkan aku yang notabene seorang wanita pun bisa tertarik padanya.

“Aku heran dengan kalian berdua. Sudah dua tahun kalian tidak saling berbicara satu sama lain karena alasan yang tidak jelas, namun tidak ada kata putus,” celetuk seorang wanita yang daritadi sibuk mengupas jagung.

“Jiyeon-ah, tentu saja mereka sudah putus. Jika aku berhenti berbicara denganmu dan tidak lagi menghubungimu, bukankah artinya hubungan kita telah berakhir? Putus tidak harus dengan kata-kata, bukan? Apalagi jika salah satu dari mereka tak sanggup mengucapkan hal itu…” sahut pria yang lain.

“Yah…Joohyun-ah… Apa kau masih menyukai Kyungsoo? Kurasa kalian harus menyelesaikan masalah kalian berdua malam ini… Tidak baik jika harus memendam perasaan sendiri, apalagi selama ini.”

“Ne? Ah…kita harus mendengarnya dari Kyungsoo. Bukankah dia yang memulai semua ini?” jawab Joohyun sambil melirik ssaem yang masih sama sekali tak mau melihatnya. Mengapa aku harus berada dalam pembicaraan seperti ini? Dadaku mulai sesak karena menahan emosi cukup lama. Apa mereka tidak sadar akan kehadiranku?

“Jamkkanman…siapa gadis imut yang di sebelahmu ini?” ujar temannya sambil menunjuk ke arahku. Akhirnya ada yang sadar juga dengan kehadiranku di antara mereka…

“Perkenalkan ini Yoo Hana, pacarku…” jawabnya dengan semangat layaknya memamerkan barang yang begitu berharga.

Tanpa sengaja kulirik wajah Joohyun yang terlihat tidak senang dengan jawaban yang diberikan Kyungsoo. Wajah menyebalkan yang sama seperti yang ditunjukkan adiknya padaku.

“Aigoo, neomu gwiyeowo…”

“Kau masih terlihat sangat muda, ya? Berapa umurmu?”

Sekarang aku sudah berada di tengah kerumunan teman-teman ssaem yang penasaran akan diriku. “Aku…umurku 18 tahun…”

“Ah, pantas saja kau terlihat sangat menggemaskan! Bagaimana kau bisa bertemu dengan Kyungsoo? Apa jangan-jangan kau muridnya?”

“Bukankan sekolah melarang hubungan antara guru dan murid?” bisik salah satu dari mereka.

Bagaimana aku harus menjawab pertanyaan mereka? Do Kyungsoo, segera lakukan tugasmu… Mengapa kau hanya diam mematung disana?

“Apa kalian baru saja melihat salah satu member girlband? Yah…Park Chanyeol. Mengapa kau berdiri begitu dekat dengan pacarku, eoh? Apa kau mau mati?” canda Kyungsoo yang dengan sigap memiting temannya yang memang daritadi berdiri terlalu dekat denganku.

“Hati-hati dengan Kyungsoo. He’s known as Mr. Pervert!” ledek Chanyeol yang membuat Kyungsoo semakin mempererat pitingannya. Ledekan Chanyeol sontak membuat kelompok itu tertawa terbahak-bahak.

Setelah penyambutan yang cukup heboh oleh teman-teman Kyungsoo, kami pun mulai dibagi menjadi beberapa kelompok secara acak untuk mengerjakan beberapa tugas agar semuanya siap nanti malam. Entah mengapa dewi fortuna tidak bersamaku kali ini, aku dipasangkan dengan Bae Joohyun. Namun ketidakberuntunganku tak berhenti lama ketika dua nama selanjutnya dibacakan untuk masuk ke kelompok kami – Park Chanyeol dan Do Kyungsoo. Kami ditugaskan untuk membeli seafood dan bahan makanan untuk bbq nanti malam. Segera setelah semua berpencar, aku pun tenggelam dalam pikiranku sendiri. Apakah semua akan berjalan dengan lancar hari ini?

***

“Suzy banyak bercerita tentangmu, Hana-ssi,” ungkap Joohyun membuka percakapan kami. Kyungsoo dan Chanyeol sedang sibuk memilih udang dan kepiting di dalam kedai sementara aku tidak tertarik untuk ikut ambil bagian disana. Lagipula aku juga tidak pandai dalam memilih-milih mana yang baik. Herannya Joohyun tidak ikut ke dalam, namun terus menempeliku yang sedang duduk bersandar di depan mobil.

“Ternyata apa yang dikatakan Suzy benar juga… Kau terlihat…sangat biasa,” lanjutnya dengan sinis, memandangiku dari ujung kaki hingga ujung rambut. Aku yang mulai risih dibuatnya pun membuang muka, menandakan aku tidak tertarik akan pembicaraan ini. Namun mungkin Joohyun tidak sepintar yang dikatakan adiknya, ia malah terus berbicara padaku.

“Kyungsoo akan meninggalkanmu, Hana-ssi. Setelah ia menggunakanmu, kau akan dicampakkan. Selera Kyungsoo bukanlah sepertimu. Aku yakin ia hanya kesepian, atau mungkin…kau hanyalah pelariannya. Siapa yang tahu?”

Pelarian Kyungsoo? Mengapa semuanya berbicara seperti itu terhadapku? Apakah aku sangat tidak pantas bersanding dengan ssaem? Aku yakin bahwa ssaem benar-benar mencintaiku, bukan hanya ingin menggunakanku saja seperti yang baru saja Joohyun katakan.

“Geumanhaeyo, Joohyun-ssi. Aku tidak ingin mendengar lebih banyak lagi omong kosong darimu,” balasku tak mau menatapnya.

“Waeyo? Apa kau takut bahwa omong kosongku barusan ternyata adalah sebuah kenyataan? Apa kau lupa bahwa Kyungsoo terkenal dengan panggilan Mr. Pervert? Byuntae Kyung?”

Mworago?! Byuntae Kyung?! Memang benar tadi aku sempat mendengar salah satu temannya berbicara seperti itu, namun kukira itu hanyalah sebuah candaan. Apakah ini benar? Malam itu…saat ssaem mendekatiku di mobil dan berusaha untuk menciumku… Seolma! Ssaem bukanlah pria seperti itu!

“Apa kau tidak penasaran apa yang sudah Byuntae Kyung lakukan padaku, Hana-ssi? Kami berpacaran hampir dua tahun. Tidak mungkin seorang Byuntae Kyung tidak pernah menyentuhku, bukan?”

Apa-apaan dia?! Mengapa dia terus berbicara seperti itu?! Apakah dia tidak bisa berhenti?! Aku tidak mau lagi mendengar apapun dari mulut wanita ini!

“Hana-ssi, aku berbicara padamu sebagai seorang teman. Jangan sampai kau menyesal nantinya. Ah! Kurasa mereka sudah selesai membeli seafood! Pikirkan baik-baik, Yoo Hana-ssi…”

Aku menelan ludah dengan cemas. Aku tidak boleh membiarkan kata-kata dari mulut wanita jahat itu meracuni pikiranku – bahkan kepercayaanku pada ssaem.

“Yoo Hana-ssi, gwaenchanhayo?” Aku menoleh ke arah yang memanggilku dengan suara beratnya. Park Chanyeol?

“Kau terlihat tidak begitu bersemangat. Apa kau tidak bisa beradaptasi dengan kami?” tanyanya lalu melompat duduk di sebelahku. Aku sedang duduk di pekarangan villa sambil memandangi ombak yang tanpa lelah menyapu pasir. Ssaem sedang berenang bersama teman-temannya. Aku tidak bisa ikut karena sedang datang bulan dan ssaem sangat menyayangi hal itu.

“A… Aniyo…”

“Ah… Geurom, mengapa kau tidak ikut berenang bersama mereka?”

“Aku…sedang datang bulan…”

“Aigoo… Bulsanghan kangaji…”

“Bagaimana denganmu, Chanyeol-ssi? Mengapa kau tidak ikut berenang?”

“Kulitku sensitif terhadap air laut. Jika terkena sedikit saja, kulitku akan memerah lalu mengelupas. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi pada kulitku yang sudah kujaga bertahun-tahun ini.”

Pfft. Dia terlalu banyak bicara. Tapi setidaknya dengan kehadiran Chanyeol disini, aku tidak akan terlihat seperti orang bodoh.

“Eum… Chanyeol-ssi. Apa aku boleh bertanya?”

“Tentu saja. Waeyo?”

“Byun…tae…kyung…? Apa benar Kyungsoo seperti itu?”

“Apa kau khawatir akan dirimu?” Wajah Chanyeol berubah serius, membuatku sedikit tegang. Aku tidak menjawabnya, malah menunggu balasan Chanyeol selanjutnya.

“Byuntae Kyung hanyalah julukan dariku untuknya. Itu karena aku pernah menemukan majalah dewasa terselip di rak bukunya ketika high school dulu. Setelah dipikir-pikir, wajar saja jika seorang anak lelaki mengoleksi majalah seperti itu – yang culun seperti Kyungsoo pun. Julukan itu terus terbawa hingga sekarang. Namun ia bukan pria seperti itu. Tenang saja, Hana-ssi. Aku lihat, Kyungsoo benar-benar mencintaimu dan aku yakin ia akan menjaga dan melindungimu.”

Seketika setelah mendengar balasan Chanyeol, hatiku begitu lega. Rasanya beban yang daritadi kutahan hilang seketika dari pikiranku. Aku merasa sedikit bersalah karena sempat meragukan ssaem. Seharusnya aku tak membiarkan si ular Joohyun meracuni pikiranku. Dari jauh aku melihat ssaem sedang berjalan ke arah kami. Aku segera bangkit dan berlari sekencang-kencangnya, tak peduli aku menginjak apa – lalu melompat ke tepat ke pelukannya. Ssaem yang kaget sontak menahan berat tubuhku dengan kedua tangannya. Dapat kurasakan tubuhnya yang basah dari balik t-shirt tipisku. Kupeluk erat-erat pria dalam dekapanku ini seakan tak ingin membiarkannya jatuh ke tangan siapapun.

“Ahem…kurasa kalian butuh ruangan…” ujar Chanyeol sambil menaikkan sebelah alisnya pada ssaem, disambut dengan mata ssaem yang melotot tajam ke arahnya. Mereka terus saling mengejek sebelum akhirnya ssaem menyerah – mungkin karena tak tahan lagi menopang berat tubuhku – lalu pergi meninggalkan Chanyeol menuju ke dalam villa.

Aku melipatkan tubuhku di samping ssaem, bersandar sangat dekat dengan jantungnya hingga aku dapat mendengar setiap detakan yang muncul dari sana. Dapat kucium aroma vanilla yang lembut dari balik t-shirt yang ia pakai.

“Apa ada yang ingin kau sampaikan, eoh?” tanyanya sambil menggosokkan jari telunjuknya yang lembut di pipiku.

“Saranghaeyo, Do Kyungsoo… Kau harus berjanji untuk terus melindungi dan menjagaku, eoh? Ddeonajima…” jawabku lalu mendongakkan kepalaku hingga pandangan mata kami bertemu.

“Yes, my Queen. Aku janji tidak akan pernah meninggalkanmu… Apa yang membuatmu tiba-tiba berbicara seperti ini?”

“Aku hanya ingin mengucapkannya…” dustaku.

“Kau masih saja ingin menyembunyikannya? Aku tahu tadi sore saat aku dan Chanyeol sedang sibuk memilih seafood, kau sedang berbicara dengan Joohyun. Apa yang ia katakan padamu, eoh?”

“Hal-hal yang tidak menyenangkan…”

“Seperti?”

“Mengapa kau begitu ingin mengetahuinya?”

“Karena aku pacarmu. Aku harus tahu apa yang wanita itu katakan padamu…” balas ssaem sambil menarik pipiku keras-keras.

“Yah! Geuman! Apha!” Aku berpindah beberapa sentimeter darinya lalu mengambil posisi nyaman untuk duduk.

“Malhaebwa…”

“Ia mengatakan soal…byun…tae…kyung…” jawabku tertunduk karena malu. Mendengar hal itu, pria di hadapanku ini mulai tertawa terkekeh kemudian terbahak-bahak. Aku yang kebingungan melihat tingkahnya hanya tertawa canggung kemudian memperhatikannya sampai ia lelah lalu berhenti.

“Apa kau takut dengan Byuntae Kyung?” ujarnya tiba-tiba dengan ekspresi menggoda sambil memainkan kedua alis tebalnya.

“Museun mariya?” Aku terbelalak melihat pria di hadapanku yang mulai mendekatkan tubuhnya kepadaku. Ia semakin maju hingga aku sepenuhnya terbaring di atas sofa. Kedua tangannya berada di sisi kepalaku, menjebak tubuhku hingga aku tak bisa bergerak. Dari bawah sini, wajah ssaem terlihat sangat tampan. Jauh lebih tampan dari biasanya. Hatiku berdetak tidak karuan ketika ia tubuhnya mulai menindih tubuhku, menyalurkan kehangatan dari kulitnya ke seluruh saraf di permukaan kulitku. Nafasnya yang lembut menyapu wajahku, membuatku lupa sejenak untuk menarik nafas. Bibirnya yang hangat perlahan menyentuh permukaan bibirku, meninggalkan rasa nikmat yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku tak bisa lagi menahan diri untuk membalas ciumannya. Udara di sekitar kami mulai memanas seiring dengan kurangnya oksigen yang dapat kuhirup karena Kyungsoo terus saja menciumku, tak memberiku cela sama sekali untuk menarik satu nafas saja. Ciumannya mulai menjalar ke sisi leherku yang membuatku kegelian. Entah apa yang ia lakukan pada leherku, aku merasakan sakit yang singkat ketika ia mengecupnya. Desahan kecil keluar dari bibirku. Apakah ia meninggalkan bekas disana? Ssaem berlaku tidak seperti dirinya sekarang. Namun aku percaya bahwa ia akan menjaga dan melindungiku. Dan kini ia sudah berhenti dan memandangiku dari atas sambil tersenyum lembut.

“Aku akan menunggumu sampai kau siap, Yoo Hana. Dan sampai saat itu, kau harus berhenti menggodaku, eoh? Atau Byuntae Kyung ini akan kembali marah! Hahaha!” ujarnya lalu mencium keningku.

Kata-kata yang diucapkannya instan membuatku tersenyum dan segera melompat ke pelukannya. “Jika kau menyerah saat itu, kita tidak akan pernah seperti ini. Tidak akan ada Do Kyungsoo dan Yoo Hana seperti sekarang ini. Gomawo, Kyungsoo-ya. Kau sudah rela menungguku, bersabar menghadapiku, mencintaiku sedalam ini…”

“Saranghae, Yoo Hana…” bisiknya lalu kembali mencium bibirku lembut.

“Nado saranghae, Do Kyungsoo…”

***

No comments:

Post a Comment