- Yoo Hana
- Do Kyungsoo
- Kim Minseok
- Im Jangmi
- Bae Suzy
- Bae Joohyun
Membosankan.
Pelajaran terkutuk. Selesaikan saja masalahmu sendiri, matematika! Kucaci maki
pelajaran terkutuk itu dalam pikiranku. Aku sedang berada di tengah-tengah
murid yang haus akan ilmu matematika, kuakui sebagian dari mereka hanya terlalu
bodoh sehingga harus diberikan jam tambahan belajar. Ya – sama sepertiku. Yoo
Hana, si bodoh. Setiap sore murid yang nilainya kurang diwajibkan untuk ikut
kelas matematika tambahan. Ada juga beberapa murid pintar yang terlalu rajin
datang mengikuti kelas ini. Untuk apa? Aku tidak mengerti dan tidak peduli.
Kebosananku
memuncak. Aku melayangkan pandangan ke seisi ruangan. Semuanya sibuk dengan
pekerjaan mereka masing-masing. Kurogoh handphone dari saku blazer-ku dan mulai
men-scroll notifikasi di Facebook.
Muncul angka satu
di notifikasi pesan, lalu kemudian berubah menjadi dua. Aku menekan tombol
pesan dan chat box pun terbuka.
‘Annyeong!’
‘Jal jinae…’
Omo omo! Kim
Minseok! Aku masih tak percaya bahwa ia mengirimkan pesan untukku. Segera
kubalas pesannya ‘Jal jinae! Neo jigeum eodiya? Bogoshipoyo…’
Tidak lama
kemudian, handphone-ku kembali bergetar. ‘Aku masih di Seoul. Neo neun?’
“Hana-ya… Ssaem
sedang melihat kesini! Awas handphone-mu!” bisik teman sebelahku, Im Jangmi. Namun
karena saking serunya menyusun kalimat untuk membalas Minseok, aku pun
mengacuhkannya.
“Yoo Hana! Berani
juga kau bermain handphone saat jam pelajaran!”
Aku melongo karena
kaget. Aish, mengapa bisa sampai ketahuan begini? Kutatap ssaem sambil
menggigit bibirku dengan tegang. Aku yakin handphone-ku pasti akan disita
olehnya.
“Ini kusita! Nanti
kukembalikan saat kelas selesai!” kata Do seonsaengnim dingin.
Pelajaran, tepatnya
penyiksaan pun dilanjutkan. Aku merasa seperti tahanan dalam penjara. Pikiranku
terus melayang ke percakapanku dengan Minseok barusan. Aish…berapa lama lagi
aku akan bebas?
“Baiklah sampai
disini materi hari ini. Sampai jumpa di kelas berikutnya,” ucap Do sonsaengnim
sembari menebarkan senyum yang digilai seantero siswi di sekolah ini. Kecuali
aku. Aku sama sekali tidak tertarik dengannya.
Aku segera
membereskan tas dan keluar dari tempat dudukku untuk menghadap ssaem. Sayup-sayup
terdengar para siswi sedang berbicara dengan Do seonsaengnim. Lebih tepatnya
menginterogasi ssaem.
“Ssaem! Ah, ini kan
sudah di luar jam belajar. Apa boleh aku memanggilmu oppa? Do Kyungsoo oppa!
Oppa kuliah dimana? Apa aku boleh tahu?” ujar salah satu siswi dengan nada
menggoda.
“Apa oppa sudah
punya pacar?”
“Ah, aku ingin
sekali makan siang dengan oppa! Apa perlu aku buatkan bekal?”
“Oppa tinggal
dimana?”
“Oppa, apa oppa
bermain kakao? Apa aku boleh minta id-nya?”
“Ah!!! Mengapa oppa
begitu tampan?!”
Tampan? Cih, apa
mereka sudah buta? Apa yang bagus dari seorang Do Kyungsoo? Aish… Kapan mereka
berhenti? Aku hanya ingin mengambil handphone-ku dan pulang. Aku sudah muak
dengan sekolah ini, terutama dengan pria berambut coklat yang sedang
dikelilingi gadis-gadis itu. Tiba-tiba saja ia berbalik dan menghampiriku.
“Yoo Hana-ssi, maaf
membuatmu menunggu…” ucapnya sambil tersenyum tipis. Matanya yang bulat dan
besar itu menatapku dengan penuh kelembutan, membuatku bergidik sejenak. Aku
mengangguk perlahan sambil menggigit bibirku lalu menundukkan kepala. Entah
mengapa aku merasa malu ketika ssaem memandangku seperti itu.
“Chingudeul! Aku
ada urusan dengan Yoo Hana. Jadi kurasa, sampai jumpa besok, ne?” balasnya
ramah sambil melambaikan tangannya.
“Mwoya? Kajja… Kita
pulang saja… Oppa, annyeong!”
“Mwo? Terlihat
sangat pribadi sekali jika hanya ingin berbicara berdua dengan Yoo Hana!”
“Babo-ya… Apa kau
lupa kalau Yoo Hana baru saja membuat ulah lagi? Handphone-nya disita ssaem!”
Suara penuh protes dari
mereka yang tidak puas terdengar semakin jauh dan akhirnya lenyap. Sekarang
tinggal aku dan si Kyungsoo yang menyebalkan di kelas.
Aku berdehem untuk
mencairkan suasana yang kurasa sedikit canggung. “Ssaem… Apa ssaem sengaja
mengurangi fans dengan mengatakan hal seperti itu?” Ssaem membalas pertanyaanku
dengan tatapan kebingungan. “Maksudku… Ssaem mengusir mereka. Padahal mereka
ingin tahu lebih banyak tentangmu. Mereka bahkan sampai mencelaku. Mengatakan
bahwa aku lagi-lagi membuat ulah dan dimarahi olehmu. Tapi aku sudah biasa
dimarahi, jadi kurasa hal itu tidak menjadi masalah…” ujarku polos.
“Biasa?” Pria di
hadapanku ini tiba-tiba terkekeh. “Kasihan sekali…”
“Hajiman… Hal itu
memang benar. Hanya aku yang selalu dimarahi olehmu.” Wajar jika aku dimarahi
terus di kelas karena aku memang tidak berniat belajar.
“Anggap saja itu
adalah sisi lain dari kasih sayang. Arraso?” jawabnya santai.
Mwoya?! Kasih
sayang macam apa yang dimaksudnya? Manusia aneh! “Ssaem, apa aku sekarang boleh
mengambil kembali handphone-ku?”
“Apa kau sudah
menyesal?”
“Ne, aku menyesal…
Jweisonghaeyo…”
“Jeongmal-yo?”
tanyanya sambil tersenyum licik lalu membuka handphone-ku.
“Ssaem! Apa yang
kau lakukan?! Kembalikan handphone-ku!”
Ssaem mengangkat
tangannya tinggi-tinggi, menjauhkan handphone-ku dari jangkauan.
“Ssaem!
Geumanhaeyo! Mengapa kau bertindak seperti anak kecil? Kembalikan!”
Tiba-tiba ssaem
bergumam, cukup nyaring sehingga dapat kubaca. “Nado bogoshipoyo? Kim Minseok?
Neo eui namching ne?”
“Geu…tidak ada
hubungannya dengan ssaem…”
“Geurom, aku tak
akan mengembalikan handphone-mu…” balasnya dengan senyum mengejek.
Michyeosseo?! Sekarang
sudah mulai gelap dan dia masih saja bermain-main seperti ini?! Guru gila!
“Aniyo. Namching
anieyo. Sekarang kembalikan handphone-ku!”
“Sudah kuduga.
Terlihat sangat jelas dia bukan pacarmu,” sahut pria gila itu sambil mengedipkan
sebelah matanya.
Apa dia sedang
mencoba untuk menggodaku? Untuk apa dia bertanya jika dia sudah tahu
jawabannya. Apa dia memiliki ketidakstabilan mental atau overwork hingga stress?
“Hana-ssi, narang
sagilrae?”
Aku melotot
kebingungan ke arahnya. Yakinkan aku bahwa aku tidak salah dengar. Pria idiot
ini baru saja menembakku? Sekarang aku benar-benar yakin bahwa dia memiliki
ketidakstabilan mental.
“Ssaem… Apa kau
sedang tidak sehat? Ataukah terlalu banyak tekanan pekerjaan sehingga pikiranmu
kacau begini?” tanyaku seraya meraih handphone-ku dari tangannya.
Ia terkekeh lalu mengacak
rambutku. “Aku tunggu jawabanmu di kelas selanjutnya, OK?”
Jantungku memompa
begitu cepat seakan sebentar lagi akan meledak. Perutku terasa seperti
digelitik dan suhu tubuhku naik seketika. Apa yang ia lakukan? Keterlaluan… Ia
sudah lewat batas jika berani menggoda siswinya seperti ini.
“Yah! Yoo Hana! Apa
kau mendapatkan kembali handphone-mu?” tanya Jangmi yang ternyata sudah menungguku
di luar kelas daritadi.
…
“Hana-ya… Gwaenchanha?
Apa kau dimarahi habis-habisan oleh ssaem?”
“Ssaem… Dia… Dia
menyatakan cinta padaku. Dia menembakku…” bisikku terbata-bata, tak berani
menatap wajah Jangmi.
“Mwo?! Jinjja?!
Geotjimal! Jinjja?! Maldo andwae…” Jangmi terus mengucapkan hal itu
berulang-ulang hingga aku harus mencubit mulutnya agar ia bisa diam.
“Dan dia meminta
jawabannya di kelas berikutnya…”
“Aku benar-benar
kaget ssaem bisa menyukai gadis sepertimu. Tomboy, kasar, tidak peduli akan
penampilan… Harusnya ssaem menyukai gadis sepertiku.” Ocehan Jangmi terus
terdengar di sepanjang jalan menuju halte bus. Aku berusaha menahan diriku
untuk meninggalkannya. Kalau bukan karena dia sahabatku dari kecil, aku
benar-benar akan meninggalkannya sekarang juga.
“Lalu…apa jawaban
yang akan kau berikan pada ssaem?”
“Mungkin aku akan
menolaknya. Mustahil berpacaran dengan pria menyebalkan sepertinya. Belum
apa-apa, aku pasti sudah akan mencampakkannya. Lagipula, aku tidak menyukai
ssaem. Untukmu saja…”
“Apa kau yakin?
Ssaem memiliki begitu banyak fans. Dan jika mereka tahu bahwa ssaem menyatakan
cintanya padamu, dan kau tolak, kau akan habis Hana-ya…” balas Jangmi sambil
mengarahkan telapak tangannya ke arah leher.
“Mereka tidak akan
tahu.”
“Bagaimana jika
penolakan darimu itu mempengaruhi nilai ujian?”
“Ssaem tidak akan
setidakprofesional itu, Im Jangmi.”
“Darimana kau tahu?
Dia sudah terlihat tidak profesional ketika menyatakan cinta padamu. Apa kau
tidak tahu bahwa cinta antara guru dan murid dilarang?”
“Aku tidak
mencintainya.”
“Kau masih
mencintai Minseok?”
Pikiranku melayang
ke masa-masa saat middle school, dimana aku dan Minseok masih begitu akrab.
Kami selalu mengerjakan tugas bersama, belajar bersama, makan siang bersama, bahkan
pulang sekolah bersama. Ya, dengan Jangmi juga tentunya. Minseok pernah
mengatakan bahwa ia akan selalu menjaga dan melindungiku dari bahaya. Namun
setelah kelulusan, ia menghilang dan tak pernah lagi mengabariku. Kupikir dia
pindah ke luar negeri, namun ternyata dia masih di Seoul. Aku sangat ingin
bertemu dengannya lagi, melepas rasa rindu yang sudah kupendam selama lima
tahun untuknya. Apakah ia juga merindukanku? Apakah ia bahkan menyukaiku?
“Hmm…” anggukku
pelan.
Sesampainya di
rumah, aku memutuskan untuk segera berendam untuk menghilangkan penat yang
sudah kurasakan seharian ini. Kuteteskan sedikit aroma peppermint ke bathtub
lalu kemudian mengambil handphone-ku dan membuka Facebook. Minseok sudah
offline. Aish…gara-gara guru gila itu, aku kehilangan kesempatan untuk
mengobrol dengan Minseok! Aku membalas pesan terakhir Minseok dengan menanyakan
dimana ia bersekolah, dengan harapan aku mendapatkan balasan darinya segera.
Kuletakkan handphone-ku ke meja kecil di samping bathtub lalu menutup mataku.
Kuhirup dalam-dalam aroma peppermint yang dipercaya dapat menurunkan tingkat
stress. Apalagi dengan mandi air hangat yang sudah menjadi ritual ketika
otot-ototku mulai lelah.
Aku tak dapat lama
menikmati ketenangan ini karena pikiranku mulai dikacaukan dengan jawaban yang
akan kuberikan besok pada ssaem. Kurasa dia hanya menggodaku. Tidak mungkin dia
serius dengan pernyataannya. Guru macam apa yang berani menyatakan cinta pada
siswinya? Hanya Do Kyungsoo, si guru gila.
“Hana-ya…”
Panggilan eomma membawaku kembali ke alam sadar.
“Ne, eomma,”
balasku dari dalam kamar mandi.
“Sudah 1 jam kau di
dalam sana. Gwaenchanha?”
“Gwaenchanha,
eomma. Aku akan segera keluar…”
“Kau terlihat kurang
sehat. Apa kau sakit? Perlukah eomma menelepon wali kelasmu?” tanya eomma
dengan cemas.
Andai saja aku
benar-benar sakit dan tidak bisa masuk besok… Aku sudah pasti bisa menghindari
ssaem.
“Aku hanya
kelelahan. Mungkin hanya perlu istirahat, eomma…” Aku memberi senyum tipis pada
eomma sambil berganti pakaian tidur.
“Eomma sudah
membuatkanmu susu hangat. Jangan lupa diminum sebelum tidur. Aigoo, uri ttal…”
Eomma mendekapku lalu menggosok punggungku pelan, membuatku merasa sangat aman
dan tenang. Untuk sejenak, aku berharap waktu dapat berhenti dimana aku diam dalam
dekapan eomma.
***
“Yoo Hana-ssi! Mengapa
kau masih belum bisa? Materi ini sudah seharusnya dikuasai dari dua minggu yang
lalu! Bukankah aku sudah mengajarkanmu berkali-kali?!” teriak ssaem membuat
jantungku hampir copot.
“Aku…aku…ssaem…pelajaran
ini terlalu sulit untukku…”
“Belajarlah lebih
giat. Aku yakin kau pasti bisa,” balas ssaem, merendahkan suaranya.
“Ne, gamsahamnida,”
jawabku lemas.
Cih. Tidak mungkin
ssaem benar-benar menyukaiku. Lihat saja perlakuannya terhadapku. Kasih sayang?
Kasih sayang apanya? Sudah jelas aku akan menolaknya hari ini jika memang dia
serius akan pernyataannya kemarin. Aku masih berharap dia hanya menggodaku
saja.
Seperti biasanya
seusai pelajaran guru gila itu dikelilingi oleh para siswi. Tapi kali ini dia
menolak mereka dan meminta mereka untuk cepat pulang karena sudah mulai gelap.
Aku segera membereskan buku-buku di atas meja dan beranjak keluar dari kelas
menyusul Jangmi.
“Yoo Hana-ssi, siapa
yang bilang kau boleh pulang?”
Eoh? Apa
dia…benar-benar akan menagih jawaban dariku? Aku mematung sejenak, mencoba
terlihat setenang mungkin sebelum menghadapinya.
“Yoo Hana-ssi? Apa
yang kau lakukan? Aku disini… Mengapa kau menunjukkan bokong seksimu itu ke
arahku?”
Mendengar ia berbicara
seperti itu, aku segera berbalik dan berteriak ke arahnya, “Ssaem! Aku akan
melaporkan kejadian barusan ke kepala sekolah! Kau benar-benar tidak sopan,
ya!”
Ekspresi wajahnya
berubah datar – sesaat membuat bulu kudukku berdiri karena ketakutan. Ia berjalan
pelan ke arahku, sementara aku melangkah mundur – terus hingga tubuhku
menyentuh sudut dinding dan tak bisa kemana-mana lagi.
“Mworago? Apa kau
tega melihatku kehilangan pekerjaanku?” Ssaem memanyunkan bibirnya sambil
meletakkan tangan kirinya ke dinding. Kini wajah kami berjarak hanya beberapa
sentimeter. Aku dapat mencium wangi parfum yang maskulin dari kerah kemeja
putihnya. Kulit ssaem terlihat sehat dan halus, matanya besar menatapku dengan
lembut, bibirnya yang berbentuk hati perlahan tersenyum, lalu tiba-tiba ia
terkekeh sambil menundukkan kepalanya.
“Mengapa ssaem
tertawa? Apa ada hal yang lucu?” tanyaku sambil cemberut karena merasa ssaem
sedang mengejekku.
“Yoo Hana…hal apa
darimu yang membuatku bisa tergila-gila seperti ini?”
“Geumanhae…ssaem.
Jika kau hanya ingin menggodaku, geumanhaeyo… Jangmi sedang menungguku di luar
dan langit sudah gelap. Akan berbahaya jika kami pulang larut…”
“Apa jawabanmu?”
tanyanya datar tanpa menggubris kata-kataku barusan.
Kini aku sadar –
ssaem tidak bermain-main dengan pernyataannya. Dia benar-benar menyukaiku,
menginginkanku. Aku benar-benar tidak ingin menyakitinya tapi…
“Mothaeyo…” jawabku
lemas. Matanya yang besar itu semakin membesar mendengar jawabanku. “Aku sudah
menyukai pria lain. Mianhaeyo…ssaem… Jeongmal mianhaeyo!” lanjutku sambil
menunduk, tak berani lagi menatap wajahnya.
“Pria itu...Kim
Minseok?” Wajahnya berubah muram. Ia mundur beberapa langkah, menarik nafas
panjang lalu menghembuskannya.
Aku tak berani
menjawabnya.
“Geureomyeon? Geu
namjaneun neoreul joh-a andago?”
Aku merasa
jantungku berhenti berdetak seketika. Kepalaku tiba-tiba saja pusing, seakan
dunia berputar di sekelilingku. Apakah Minseok menyukaiku? Tidak ada yang tahu.
Aku sendiri bahkan tidak yakin akan hal itu.
“Na…mollaseoyo…”
“Kalian hanya berinteraksi
lewat Facebook, bukan? Tampar aku jika aku salah, seharusnya jika dia tertarik
padamu, dia akan segera meminta id kakao atau nomor handphone-mu, Hana-ya…”
Entah karena aku
sedang sangat sensitif atau hal terkutuk apapun yang sedang kurasakan sekarang,
aku menganggap balasan ssaem barusan layaknya ejekan. Kedua tanganku tiba-tiba
saja gemetar hebat, kemudian menjalar ke seluruh tubuhku.
“Museun marieyo?!”
aku mulai meninggikan suaraku karena geram. “Aku sudah lama tidak bertemu
dengannya! Sudah tiga tahun kulalui tanpa kejelasan darinya. Apakah ia pindah
ke luar negeri ataukah masih di Seoul? Apa kau pernah merasakan hal seperti
itu? Menunggu seseorang yang tidak pasti keberadaannya? Yang bahkan tak pernah
mengabarimu? Bahkan kau tak dapat menghubunginya! Apa ssaem bahkan mengerti
perasaanku?!” bentakku dengan geram lalu mengambil langkah cepat keluar dari
kelas. Tangis yang tak dapat kubendung lagi tumpah seraya aku berjalan
menghampiri Jangmi.
“Hana-ya… Museun
iliya?” Jangmi segera menarikku ke dalam pelukannya. Aku tak biasa menangis,
tapi aku benar-benar sangat terluka dengan kata-kata ssaem tadi. “Gwaenchanha?
Jeongmal geogjeongdwae…”
Dalam benakku saat
ini, aku hanya ingin kembali ke kamar dan menenggelamkan diriku disana. Aku
sudah cukup lelah dengan hari ini.
***
Besoknya sepulang
sekolah aku memutuskan untuk bolos kelas tambahan terkutuk itu dan bertemu
dengan Minseok. Aku meminta tolong Jangmi untuk merahasiakan ini jika ssaem
bertanya. Letak sekolah Minseok cukup jauh dari sekolahku, jadi aku harus naik
bus menuju kesana. Kami berjanji akan bertemu di depan gerbang sekolah.
Sesampainya di halte bus dekat sekolahnya, aku berlari-lari kecil menuju kesana
karena sudah tak sabar ingin bertemu dengannya. Apa dia bertambah tinggi? Apa
dia masih segemuk dulu? Apa kulitnya masih lebih putih dariku? Sembari
membentuk bayangan Minseok dalam benakku, mataku menangkap sosok pria yang
kucari-cari selama ini. Tepat di depanku, Minseok berjalan santai sambil
menggenggam handphone di tangan kanannya. Sementara itu di sisi kirinya…ada
seorang gadis cantik berambut ikal yang bergelut mesra di lengan kirinya.
Mereka sedang tertawa cekikikan seraya berjalan ke arahku. Minseok menangkap
tatapanku namun dengan segera aku melempar pandanganku ke arah lain lalu
berbalik, berusaha untuk meninggalkan tempat itu dengan segera. Aku tidak siap
menghadapinya. Aku tidak siap jika ternyata gadis itu adalah pacarnya. Tubuhku
mulai gemetar dan jantungku kembali memompa sangat cepat. Aku harap dia tidak
mengenaliku.
“Yoo…Hana?” Suara
indah yang selama ini kurindukan. Bahkan namaku terdengar begitu pas ketika ia
menyebutkannya. Perlahan aku menoleh ke sumber suara yang agak ragu memanggilku
barusan. “Apa kau Yoo Hana?” tanyanya sambil tersenyum ramah. Gadis di
sebelahnya pun ikut tersenyum.
“Kim Minseok?”
“Akhirnya kita bisa
bertemu, ya… Sudah berapa lama sejak pertemuan terakhir kita? Kurasa…tiga
tahun?”
Pikiranku kacau
balau. Aku sudah tak mampu lagi mengingat apapun tentangnya. Kakiku goyah, tubuhku
serasa akan tumbang sewaktu-waktu.
“Ne…” Hanya jawaban
singkat yang dapat kuberikan padanya.
“Ah, amuteun…
Perkenalkan, ini Ahn Sohee, pacarku. Dan Hana adalah teman baikku waktu middle school.”
Bayangkan satu
jarum menembus kulitmu. Sekarang aku merasakan seribu jarum menembus setiap
sudut tubuhku, lalu merobekku tanpa ampun. Aku mematung, tak bergerak.
Mendengar Minseok memperkenalkan gadis itu sebagai pacarnya benar-benar
menyakitkan. Apalagi ketika gadis itu menyalamiku sambil tersenyum ramah. Kurasakan
sesak yang begitu hebat di dadaku. Air mata sudah tak dapat lagi kubendung. Ini
saatnya aku pergi.
“Kalian
terlihat…baik bersama. Ah, sepertinya aku lupa…aku ternyata ada janji.
Mianhaeyo, aku tak bisa berlama-lama. Aku hanya ingin melihatmu setelah sekian
lama tidak berjumpa. Geurom…” Kulemparkan senyumam miris pada Minseok sebelum
berbalik pergi meninggalkan tempat itu. Sungai kecil yang tak dapat lagi
kubendung langsung mengalir deras di wajahku. Aku tidak tahu apa yang akan
Minseok pikirkan tentang perjumpaan kami. Aku bahkan tidak mau peduli lagi.
Penantianku selama tiga tahun ini sirna, hancur berkeping-keping. Aku hanyalah
bagian dari masa lalunya. Dia tak pernah melihatku sebagai seorang gadis, namun
hanya sahabatnya. Aku melangkah tanpa arah di sepanjang jalan, membuatku
menjadi pusat perhatian karena tangisku yang belum berhenti sedari tadi.
“Yoo Hana-ssi…”
Suara yang sangat familiar itu terdengar sangat dekat denganku. Kuangkat
kepalaku perlahan. Ssaem…
“Pria seperti apa
yang tega menyakiti gadisku hingga seperti ini?” Masih sempat kulihat matanya
yang berkaca-kaca sebelum ia menarikku dalam dekapannya. Baru pertama kali aku
merasakan kehangatan dan kenyamanan dalam pelukan seorang pria. Tanganku yang
tadinya kubiarkan jatuh perlahan naik, membalas pelukan yang diberikannya
padaku. Entah berapa lama kami berpelukan hingga ssaem bersuara.
“Jangmi mengatakan
padaku bahwa kau pergi ke sekolah Minseok… Jadi kuputuskan untuk membatalkan
kelas dan menyusulmu kesini.”
“Ssaem…membatalkan
kelas untuk menyusulku? Apa ssaem tidak tahu resikonya jika sampai ketahuan
kepala sekolah?”
“Aku tak peduli
lagi. Yang kupikirkan saat itu hanya kau. Aku sangat khawatir jika terjadi
sesuatu denganmu. Dan ternyata pria itu…”
“Aku baik-baik
saja…”
“Kau tidak mungkin
baik-baik saja. Jangan pernah katakan kau baik-baik saja saat kau sudah hampir
setengah sadar seperti ini, eoh? Aku akan melindungi dan menjagamu…” Kurasakan
dekapannya semakin erat.
“Aku akan
melindungi dan menjagamu… Minseok pernah mengatakannya padaku. Tapi apa yang ia
lakukan?”
“Aku bukan pria
brengsek itu. Percayalah padaku, eoh?”
“Aku tidak pernah
menyangka bahwa ssaem serius dengan pernyataanmu waktu itu…”
Dia tertawa kecil
lalu melepaskanku dari pelukannya. Ia menangkupkan kedua tangannya ke wajahku,
“Aku tak mungkin berani menyatakannya jika aku tak serius. Aku benar-benar
mencintaimu, Yoo Hana. Dari awal.”
Ia membelai
rambutku, memberi ketenangan yang luar biasa padaku. Sekarang aku memang masih
belum menyadarinya. Namun suatu saat aku yakin, keberadaan ssaem dalam hatiku…perlahan-lahan
akan berubah.
“Yoo Hana! Mengapa
rumus sesederhana ini saja tak bisa kau hafal?!” Lagi-lagi ssaem mengeluarkan
bentakan mautnya yang membuat satu kelas hening seketika. Ia menatapku dengan
matanya yang besar seakan ingin menelanku hidup-hidup.
Sayup-sayup
terdengar bisikan dari teman-teman sekelasku. Tentu saja mereka yang berani
membicarakanku adalah siswa yang jenius matematika.
“Lagi-lagi dia
membuat ulah…”
“Apakah isi
kepalanya itu kotoran? Mengapa dia sangat bodoh?”
“Mungkin setiap
hari dia hanya makan nasi dan vetsin. Hahaha…”
“Siapa yang
menyuruh kalian bicara?!” bentak ssaem lagi seraya menyapukan pandangannya ke
seluruh kelas. “Apakah kalian pikir kalian sudah sangat hebat sehingga boleh
menertawakan teman kalian seperti itu?! Lanjutkan pekerjaan kalian!”
Apa ssaem baru saja
membelaku? Mengapa dia terlihat begitu keren saat marah? Hahaha Yoo Hana, apa
kau sudah saking seringnya dimarahi ssaem sampai akhirnya menganggap bahwa ia
keren saat marah? Sungguh tragis.
“Dan kau Yoo Hana,
kau harus stay setelah kelas usai. Akan ada jam tambahan untukmu.”
MWO? Aish…
Menyebalkan sekali. Padahal hari ini drama kesukaanku akan tayang. Apalagi ini
episode yang sudah kutunggu-tunggu dari minggu lalu.
***
“Ssaem… Mengapa
perlakuanmu terhadapku masih tidak saja berubah? Sebelumnya aku juga selalu
dimarahi…” protesku saat kelas bubar. Ia menyandarkan tubuhnya di meja
menghadap ke arahku yang sedang menatapnya sinis dari bangku.
“Aku sengaja
melakukannya,” balasnya singkat.
“Mworago?” mataku
membelalak kaget.
Dia berdehem.
“Lagipula…apa kau mau aku memanjakan dan berlaku sebagai pacarmu disini?
Bagaimana jika ketahuan oleh siswi-siswi itu? Kau sendiri kan yang akan repot…”
“Museun mariya?”
“Mungkin saja kau
akan dikejar-kejar oleh mereka dan diteror? Siapa tahu…” candanya sambil
mencubit hidungku.
“Tetap saja ssaem terlalu
berlebihan memarahiku. Harusnya ssaem bersikap lebih baik padaku,” sahutku
dengan nada protes sambil memanyunkan bibirku.
“Ah, geurigo…apakah
kau mau diperlakukan seperti seorang wanita olehku?” tanyanya sambil menaikkan
sebelah alisnya, mencoba menunjukkan wajah menggodanya yang malah menurutku
menjijikkan.
“Geumanhae… Ssaem
terlihat konyol seperti itu,” balasku sambil menahan tawa. “Maksudku cara
bicara ssaem seharusnya bisa lebih baik dari sebelum kita pacaran, kan?”
“Jika kau berjanji
akan benar-benar belajar dengan giat, aku tidak akan membentakmu lagi.”
“Aku sudah belajar
dengan giat. Tapi apa daya jika kemampuan otakku hanya seperti ini?”
“Berarti kau
belajar kurang giat,” ujarnya sambil tersenyum dan mengacak-acak rambutku. “Mianhae,
Hana-ya… Tapi ini hanya bisa kulakukan kalau kita berdua saja. Arraso?”
“Eung…”
Tangan lembutnya
yang mengelus kepalaku… Suara rendahnya yang memanggil namaku… Semuanya berbeda
dengan laki-laki yang ada di sekitarku. Ssaem adalah seorang pria dewasa.
Kenapa ssaem bisa menyukai gadis sepertiku – seperti yang Jangmi katakan malam
itu, aku tomboy, tidak memperhatikan penampilan, bahkan jarang sekali
berdandan.
“Ssaem…sudah hampir
jam 9. Aku takut eomma khawatir jika tahu aku belum pulang.”
Hari ini Jangmi
tidak masuk karena sakit jadi aku bisa tinggal lebih lama bersama ssaem di
kelas.
“Aku akan
mengantarkanmu pulang. Kau tunggu saja di luar. Aku mau ke kantor guru sebentar
untuk mengisi absen dan membereskan beberapa dokumen,” katanya lalu mencium
keningku dan beranjak pergi.
Aku pun segera
mengambil tas ransel ungu yang tergeletak di atas meja dan berlari kecil menuju
halaman sekolah. Eoh? Jam segini masih ada yang belum pulang? Aku memperhatikan
seorang gadis berambut pirang yang berjalan semakin dekat ke arahku. Sebenarnya
ini agak sedikit menyeramkan karena halaman sekolah hanya diterangi satu lampu
jalanan yang remang-remang. Tatapan kami bertemu saat ia sudah cukup dekat
berdiri di hadapanku.
“Siapa kau? Apa hubunganmu
dengan Do Kyungsoo?” tanyanya kasar.
Siapa gadis ini? Kuperhatikan
dia dari atas sampai bawah. Ia mengenakan seragam yang sama denganku. Di sudut
kiri vest yang ia kenakan, tergantung papan nama bertuliskan ‘Bae Suzy’. Aku
belum pernah bertemu dengannya sekalipun di sekolah. Mungkin karena aku yang
terlalu membatasi diriku terhadap pergaulan. Ia terlihat manis dengan poni
depan dan pipi merona merah. Tipe gadis yang mampu menaklukkan hati setiap pria
dengan kecantikan yang ia miliki. Dan bicara soal pertanyaannya barusan,
mengapa ia bisa tahu tentang aku dan ssaem?
“Asal kau tahu, sejak
Do Kyungsoo dan kakakku berpacaran dulu, aku sudah menyukainya. Aku berniat
masuk ke kelas tambahan ini demi bertemu Do Kyungsoo. Aku tidak akan mundur
lagi kali ini. Jawab pertanyaanku! Apa hubunganmu dengan Do Kyungsoo?!”
Teriakannya
membuatku mundur selangkah karena terkejut. Jadi, gadis ini adalah adik dari
mantan pacar ssaem? Dan dia…menyukai ssaem? Aku tak berniat membuka identitas
diriku padanya. Aku tak mau mengambil resiko ketahuan bahwa aku adalah pacar
ssaem. Bisa-bisa ia melaporkannya ke kepala sekolah dan tamatlah riwayat kami
berdua. Aku menarik nafas dalam-dalam lalu berjalan melewatinya, membiarkan ia
berteriak dan memakiku sesuka hatinya. Kini yang kuinginkan hanya berjalan ke pintu
gerbang sekolah dan berharap ssaem sudah di luar.
“Hana-ya…”
“Ssaem!” Kelegaan
terdengar jelas dalam suaraku saat melihat mobil ssaem di hadapanku. Baru saja
aku mau berjalan menuju ke pintu mobil, suara Bae Suzy menghentikan langkahku
dan membuat ssaem sedikit terkejut.
“Oppa! Sejak kapan
seleramu menjadi sejelek ini?” tanyanya sambil menatap sinis ke arahku. “Yoo…Ha…na…
Berbeda sekali dengan mantan pacar oppa dulu. Wajah seperti boneka porselen,
tubuh seperti Kim K, dan memiliki otak cerdas. Ah, kudengar Yoo Hana adalah
murid terbodoh di kelas oppa. Apa itu benar?”
“Geumanhae, Bae
Suzy. Apa yang kau lakukan disini? Darimana kau dapatkan seragam itu?” Kini
ssaem sudah turun dari mobil. Ia mengisyaratkanku untuk masuk ke dalam –
mungkin mencegahku untuk mendengar lebih banyak lagi hal-hal menyakitkan yang
keluar dari mulut gadis itu.
“Wae?! Mengapa oppa
selalu menolakku? Apa yang kurang dariku? Bahkan aku sangat mirip dengan eonni!
Gadis itu! Tidak ada bandingannya denganku! Apa dia yang memaksamu untuk
menjadi pacarnya?!” Teriakannya cukup keras hingga terdengar dari dalam mobil. Aku
bersyukur karena ini sudah larut sehingga tidak ada siswa lain yang perlu
mendengar keributan ini.
“Bae Suzy! Geumanhae!”
tegur ssaem dengan keras. “Sekarang jawab pertanyaanku. Darimana kau
mendapatkan seragam ini?”
Suzy tersenyum
tipis ke arah ssaem. “Apa siswi sekolah ini tidak boleh mengenakan seragam
sekolahnya sendiri?”
“Museun mariya?”
“I’m officially
Empire’s student!” seru Suzy tak dapat menyembunyikan keceriaannya yang walau
disambut datar oleh ssaem.
“Aku harap kau tak membuat
ulah disini…”
***
“Bae Suzy…dia
adalah adik dari mantan pacarku, Bae Joohyun.” Ssaem bersuara, memecah
keheningan yang sudah berlangsung kurang lebih 15 menit di dalam mobil. Bahkan
ssaem tak menyalakan musik atau sejenisnya untuk mengurangi rasa tidak nyaman
yang kami rasakan.
“Aku tahu. Dia
menceritakannya padaku,” balasku singkat sambil memainkan jari-jariku.
“Apa saja yang ia
katakan padamu?”
“Ia menyukai
ssaem…”
Untuk sejenak,
keheningan kembali merasuki kami. Sebenarnya aku penasaran dengan kakak dari
Bae Suzy. Dari apa yang dideskripsikan Suzy tadi, jelas aku sangat bertolak
belakang dengan kakaknya. Aku penasaran bagaimana ssaem bisa putus dengannya.
Dan satu hal yang membuatku bertanya-tanya – mengapa ssaem bisa menyukai gadis
yang sama sekali bertolak belakang dengan mantannya yang seperti malaikat itu?
“Mantanmu itu…”
“Namanya Joohyun. Ia
dua tahun lebih tua dariku. Kami bertemu di kelas Calculus and Analysis dimana ia
menjadi asisten dosen. Aku yang beberapa bulan kemudian terpilih menjadi
asisten dosen pun diminta untuk lebih banyak berinteraksi dengan Joohyun.”
Aku memperhatikan
kisahnya dengan seksama, tak sabar dengan kisah selanjutnya.
“Singkatnya, kami
berpacaran. Apa yang Suzy katakan tentang kakaknya tadi memang benar. Joohyun
adalah wanita yang sempurna. Banyak pria yang mengejarnya, bahkan mencoba
merebutnya dariku.”
Mengapa seakan ada
yang menghujam jantungku saat ssaem mengatakan bahwa Joohyun adalah wanita yang
sempurna? Apakah aku cemburu? Aku tidak seharusnya cemburu. Joohyun adalah
bagian dari masa lalu ssaem.
“Dan salah satu
dari mereka berhasil. Joohyun bermain di belakangku dengan seorang atlet sepak
bola. Aku mengetahuinya ketika tanpa sengaja memergoki Joohyun yang sedang bergelut
mesra dengan atlet itu. Joohyun memang boleh terlihat sempurna, namun semuanya
hancur ketika ia berani mengkhianatiku. Ia menyia-nyiakan kepercayaanku. Hari
demi hari, ia tak pernah lagi menghubungiku. Dan aku juga tak pernah mau
mencarinya. Hubungan kami berhenti sampai disana. Tanpa kata.”
“Jadi belum ada
kata resmi dari kalian berdua untuk mengakhiri hubungan kalian?”
“Kau tak perlu
khawatir, Hana-ya. Bagiku, Joohyun bukan lagi siapa-siapa. Bagiku, hubungan
kami sudah berakhir. Bahkan aku tak lagi mengingat kejadian dua tahun lalu itu.
Sekarang yang aku pikirkan hanya Yoo Hana,” balasnya seraya tersenyum padaku.
Aku dapat merasakan
pipiku memerah sekarang. Oksigen dalam mobil ini seakan tiba-tiba saja
berkurang, meninggalkanku sesak karena kebahagiaan yang entah mengapa meluap
tiba-tiba.
“Yang dikatakan
Suzy tadi…jangan kau pikirkan lagi, eoh?” Tak terasa kami telah tiba di depan
rumahku.
Aku mengangguk
tanda setuju. Tiba-tiba ssaem menggeser tubuhnya mendekatiku. Perlahan ia
menangkupkan tangan kirinya ke pipiku, membawa wajahku semakin dekat dengannya.
Dapat kurasakan hembusan nafasnya yang teratur di pipiku. Aku sadar bahwa ia
ingin menciumku.
“Hajima…” Kuletakkan
kedua tanganku ke dada bidangnya, mendorongnya ke belakang dengan perlahan. “Aku
belum siap… Mianhaeyo…ssaem…”
“Mianhae… Aku
terlalu terburu-buru,” jawabnya datar lalu memalingkan wajah ke sisi lain.
“Lupakan saja yang barusan terjadi…”
***
“Dilihat dari
dekat, kau semakin terlihat berbeda dengan Joohyun eonni. Apa yang membuat Do
Kyungsoo mau denganmu? Ah, apakah kau menggunakan ilmu sihir?” ejek Suzy yang
kini duduk di depan bangkuku.
Aku mengunci
bibirku rapat-rapat, membiarkannya mengejekku sampai ia lelah. Bisikan dari para
siswa yang mengaguminya terdengar jelas di telingaku. Suzy dan aku sangat
bertolak belakang satu sama lain. Ia cantik, pintar, dan bisa langsung populer
di sekolah, padahal ia baru saja masuk. Ia selalu tampak ramah kepada semua
orang, lalu ketika mereka sudah tak lagi di hadapannya, ia mengeluarkan wajah
tak senangnya yang membuatku muak. Ya, muak karena hidupnya yang penuh drama
dan kepura-puraan. Hampir seluruh siswa di sekolah, dari siswa kelas 10 sampai
12 menyukainya. Hari-hari kulewati dengan ejekan dan sindiran darinya yang tak
kugubris. Jangmi hampir saja menamparnya waktu itu, tapi tidak jadi karena ada
guru yang lewat. Jangmi memang lebih berani dariku dan ia bisa saja
mengobrak-abrik wajah Suzy, tapi kutahan agar ia tak terlibat dalam masalah.
Sebentar lagi akan ujian akhir dan aku hanya perlu bersabar untuk beberapa
waktu. Ssaem menghentikan proses bimbel selama seminggu karena ia diutus ke
Jepang untuk seminar guru matematika. Jadi semenjak malam itu, aku sudah tak
lagi bertemu, bahkan berkomunikasi dengannya. Ia pun tidak memberitahuku
perihal keberangkatannya ke Jepang. Apakah ia benar-benar menganggapku sebagai
pacarnya?
“Yah! Bae Suzy! Apa
kau bisa berhenti mengoceh?! Kau tahu, kau seperti CD rusak yang terus saja
mengulang hal yang sama! SETIAP HARI! Apa bibirmu itu tidak lelah? Haruskah aku
menyemprotkan pestisida ke dalam sana agar kau diam?!” Jangmi yang sudah tak
tahan lagi dengan ocehan Suzy mengambil penghapus dan melemparnya ke depan.
“Im Jangmi…mengapa
kau selalu berbicara dengan nada tinggi kepadaku? Padahal aku bicara pada Hana
dengan perlahan,” balasnya sambil melempar senyum mengejek lalu kembali
melayangkan tatapannya padaku.
“Kau tahu…saat
Kyungsoo berpacaran dengan eonni, hampir setiap hari ia datang ke rumahku.
Bahkan kami sering makan malam bersama. Eomma sangat menyukainya dan mengatakan
bahwa Kyungsoo adalah calon menantu yang baik. Eonni tidak begitu menyukainya,
tapi aku…aku sangat sangat menyukai Kyungsoo.”
“Tapi sayang sekali
ssaem tidak menyukai gadis sepertimu. Ka! Jangan ganggu kami! Karago!!!” Jangmi
mengusir Suzy sambil melototkan matanya, membuat Suzy agak terkejut dan
memutuskan untuk pergi sebelum Jangmi melemparnya dengan benda lain lagi.
“Hana-ya… Kau harus
memberitahu ssaem tentang hal ini. Kau tak bisa membiarkan si ular itu mengganggumu
terus! Jika kau tidak berani memberitahunya, biarkan aku yang melakukannya.”
***
Besoknya kelas
tambahan diadakan kembali karena ssaem sudah pulang. Ia tidak menghubungiku
mengenai kembalinya ia dari Jepang. Itu membuatku sedikit kecewa. Apalagi aku
mengetahuinya dari Suzy. Hari ini ssaem terlihat lain dari biasanya. Ia tidak
lagi memarahiku atau mengomeliku, bahkan saat wajahku murung seperti ini pun, ia terkesan tidak peduli
denganku. Apa ia masih marah tentang kejadian di mobil waktu itu?
“Ssaem... Aku tidak
mengerti soal nomor 5. Apa kau bisa membantuku?” tanya Suzy dengan nada
memelas. Kulihat ssaem bangkit dari bangkunya lalu menghampiri Suzy. Apa Suzy
sengaja melakukannya agar membuatku cemburu?
“Gunakan rumus
pythagoras dulu untuk mencari jaraknya. Setelah itu baru gunakan rumus ini,”
jelas ssaem seraya menunjuk ke salah satu halaman dari buku paket. Dalam
kesempatan itu, Suzy menolehkan kepalanya ke arahku lalu memberikan senyum
kemenangan. Perasaanku semakin tak menentu dibuatnya. Apakah aku sudah
benar-benar jatuh cinta pada Do Kyungsoo?
Kelas pun usai dan
aku segera bersiap-siap untuk bertemu dengan ssaem setelahnya. Namun herannya
ssaem tidak memintaku untuk stay sama sekali. Ia malah keluar dari kelas lebih
awal dari biasanya.
Jangmi menyikutku,
memberi isyarat untuk segera menyusul ssaem. “Hari ini kami akan makan malam di
luar. Jadi appa yang akan menjemputku. Hwaiting, Hana-ya!” Dan mataku terus
mengikuti Jangmi sampai bayangannya hilang dari pandanganku.
Kakiku sudah mulai
lemas karena perasaanku yang berkecamuk ini. Aku berjalan lunglai ke depan
gerbang, berharap menemukan mobil ssaem disana. Dan ternyata iya, mobilnya
ssaem tepat terparkir di depan gerbang sekolah. Apakah mungkin ia sedang
menungguku untuk mengantarku pulang? Aku segera berjalan mendekatinya namun langkah
kakiku terhenti ketika mataku menangkap Suzy yang tiba-tiba saja naik ke mobil
ssaem. Museun suriya? Mobil merah itu pun berlalu, meninggalkanku dengan air
mata yang mulai membasahi pipiku. Do Kyungsoo…mengapa kau tega sekali melakukan
ini padaku, eoh? Apa karena aku tak membiarkanmu menciumku? Bahkan jika kau
ingin menghentikan semuanya, setidaknya kau harus membicarakannya terlebih
dahulu padaku. Bukan malah diam dan mengacuhkanku! Mengapa kau begitu jahat,
Kyungsoo-ya?
***
“Yoo Hana…”
Aku mengangkat
wajahku menuju suara tersebut. Dalam jarak kira-kira 5 meter, aku mendapati
sosok yang sangat kukenal sedang berdiri tepat di depan pintu gerbang. Do
Kyungsoo. Aku benar-benar tidak ingin bertemu dengannya sekarang – dengan
keadaanku yang seberantakan ini. Mataku merah dan bengkak karena menangis hebat
dalam perjalanan pulang tadi. Kuputuskan untuk pura-pura tidak mendengarnya dan
mengambil arah berlawanan, memutari rumahku agar aku bisa lewat pintu belakang.
Kyungsoo yang menyadari hal itu segera meneriakkan namaku sambil mengejarku.
Kuakui aku bukan pelari tercepat di sekolah, oleh karena itu ia berhasil
menangkap tanganku.
“Yah! Museun
suriya?! Mengapa kau lari dariku, Hana-ya?! Nareul bwa!”
Aku memalingkan
wajahku yang sontak membuatnya terdiam. “Sondaejima!” Kulirik tangannya yang
masih menggenggam erat pergelangan tanganku. “Sondaejima…” Perlahan ia
melepaskan pergelanganku yang mulai memerah.
“Apa kau marah
padaku?” tanyanya sambil menunduk, mungkin merasa bersalah atas perbuatannya.
“Nappeun namja… Apa
seharusnya aku senang melihat seorang wanita duduk bersamamu di dalam mobil?
Apa seharusnya aku senang ketika kau mengacuhkanku sepanjang pelajaran? Atau
bahkan…apa aku harus memberi selamat padamu karena kau punya pacar baru yang
sifatnya seperti iblis itu?!” Air mata dan emosi berlomba-lomba mengucur keluar
dari tubuhku. Aku tak peduli lagi bagaimana wajahku sekarang di hadapannya.
Atau apakah kata-kata yang kukeluarkan pantas untuk diucapkan.
“Jadi kau marah
karena mengira aku meninggalkanmu untuk gadis busuk itu?” balasnya membuatku
berhenti terisak. Ia mendekatkan wajahnya padaku hingga jarak kami hanya tersisa
satu jengkal saja. “Apa kau lupa akan janjiku untuk menjaga dan melindungimu?
Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Yoo Hana. Apalagi untuk gadis seperti Bae
Suzy. Itu konyol sekali…” Matanya menatapku begitu lembut hingga aku mulai
dapat mengontrol kembali emosiku.
“Kau bisa saja
mencampakkanku karena…karena aku tak membiarkanmu menciumku waktu itu…”
Pria di hadapanku
mengeluarkan tawa kecilnya sambil mengacak-acak rambutku. “Babo-ya… Perasaanku tidak
mungkin berubah hanya karena hal itu. Kau kira aku pacaran denganmu hanya untuk
menciummu? Tadi aku memintanya untuk bertemu denganku di mobil. Lalu aku
memutuskan untuk pergi agar tidak dilihat oleh siswa lain. Aku tidak mau
menimbulkan gosip bodoh, apalagi dengan Bae Suzy. Kemudian aku
memperingatkannya untuk tidak mengganggumu lagi…”
“Darimana ssaem
tahu bahwa ia menggangguku sepanjang minggu ini?” celetukku dengan polos.
“Tentu saja aku
tahu. Tidak mungkin ia tidak memanfaatkan kesempatan emas mengganggumu ketika
aku tidak ada di sekolah.”
“Tapi tetap
saja…aku tidak suka melihat ssaem bersama dengan wanita lain. Apalagi dengan
Bae Suzy…”
“Yoo Hana…” Ssaem
menyodorkan tangannya, mengisyaratkanku untuk meraihnya. Kemudian tiba-tiba ia
menarikku cukup kuat untuk jatuh ke dalam pelukannya.
“Aku janji tidak
akan pernah membiarkan wanita manapun, kecuali eomma dan kau untuk duduk di
samping kursi pengemudi.” Ia menangkupkan kedua tangannya ke wajahku lalu
menarikku semakin dekat dengan wajahnya. “Oleh karena itu, kau jangan khawatir
lagi, eoh? Mianhae...jika aku sudah menyakitimu…”
Kutatap matanya
dalam-dalam, cukup lama hingga membuatku seakan terhipnotis untuk menjinjitkan
kakiku agar wajah kami semakin dekat. Dengan perlahan, kusentuh bibirnya yang
kemerahan itu dengan bibirku. Kehangatan menjalari seluruh tubuhku. Ciuman
pertamaku kulakukan dengan Do Kyungsoo. Dan rasanya begitu indah – aku seakan
ingin terus menciumnya. Perasaan yang begitu nyaman…perasaan yang timbul hanya
jika ada Do Kyungsoo bersamaku.
“Kau…baru saja
menciumku?” tanyanya gugup yang membuatku otomatis tertawa terbahak-bahak.
“Selama ini ssaem
yang berusaha untuk menciumku, tapi setelah aku melakukannya, malah ssaem yang
terlihat membeku seperti ini! Hahaha…”
Tak berapa lama ia menyusul
tertawa lalu memiting kepalaku. “Kau sekarang sudah mulai berani, eoh? Akan
kubalas kau, Yoo Hana… Hahaha…”
“Ssaem…lepaskan
aku…hahaha…aku tidak bisa bernafas…yah!!! Jangan menarik pipiku terlalu keras!
Aphayo!”
“Pipimu benar-benar
elastis ya! Hahaha… Hana-ya, mulai sekarang, apa kau bisa tidak memanggilku
dengan sebutan ssaem?”
“Baiklah, baiklah. Do
Kyungsoo…lepaskan aku!”
“Itu terdengar
lebih baik! Hahaha… Tapi aku tetap tidak akan melepaskanmu!”
Malam ini adalah
malam terindah dimana aku dapat merasakan arti seseorang di hidupku, yang
posisinya kini tak tergantikan di dalam hatiku. Saranghaeyo, Do Kyungsoo.
***
“Sudah sekian lama
aku tidak menginjakkan kaki di pantai…” gumamku cukup keras sambil berlari-lari
kecil, menikmati angin musim panas yang cukup sejuk siang ini.
Ssaem mengajakku ke
pesta bbq salah satu teman kuliahnya di Busan. Awalnya aku menolak karena tidak
mengenal teman-temannya, namun ia terus saja membujukku. Akhirnya aku setuju
dengan alasan jika ia bersama teman-temannya, aku mungkin bisa melihat sisi
lain dari seorang Do Kyungsoo.
“Kyungsoo-ya!” Kami
berdua sontak menoleh ke sumber suara. Tak berapa jauh dari kami, sekelompok
anak muda dengan penuh semangat melambaikan tangan mereka, menandakan kehadiran
mereka disana. Ssaem terlihat sangat bahagia berjumpa dengan teman-temannya –
terbukti dengan senyumnya yang terus mengembang hingga ia menghampiri mereka.
“Akhirnya datang
juga si jenius ini…” ujar salah satu temannya sambil menepuk bahu ssaem.
“Annyeong,
Kyungsoo-ya…” sapa seorang wanita dengan croptop hijau tosca dan celana pendek
putih. Untuk seketika aku terpesona akan kecantikannya. Kulitnya yang seputih
susu, rambut hitamnya yang dibiarkan terurai sepunggung, kakinya yang jenjang
seperti girlband di televisi… Aku membayangkan jika aku berjalan di sampingnya,
bisa-bisa mereka mengiraku sebagai pelayan dari wanita itu. Kyungsoo nampak
tidak terlalu menghiraukan sapaan itu. Ia hanya melemparkan senyum tipis
padanya, lalu kembali mengarahkan pandangan ke teman-temanya yang lain.
“Aish…suasana
seperti apa ini? Apa kau sudah lupa dengan Bae Joohyun, eoh? Kau tidak lupa kan
masa-masa kejayaanmu dulu?”
Bae Joohyun...bukankah
dia…mantan pacar ssaem? Ternyata dia memang secantik yang dideskripsikan
adiknya. Bahkan aku yang notabene seorang wanita pun bisa tertarik padanya.
“Aku heran dengan
kalian berdua. Sudah dua tahun kalian tidak saling berbicara satu sama lain
karena alasan yang tidak jelas, namun tidak ada kata putus,” celetuk seorang
wanita yang daritadi sibuk mengupas jagung.
“Jiyeon-ah, tentu
saja mereka sudah putus. Jika aku berhenti berbicara denganmu dan tidak lagi
menghubungimu, bukankah artinya hubungan kita telah berakhir? Putus tidak harus
dengan kata-kata, bukan? Apalagi jika salah satu dari mereka tak sanggup
mengucapkan hal itu…” sahut pria yang lain.
“Yah…Joohyun-ah…
Apa kau masih menyukai Kyungsoo? Kurasa kalian harus menyelesaikan masalah
kalian berdua malam ini… Tidak baik jika harus memendam perasaan sendiri,
apalagi selama ini.”
“Ne? Ah…kita harus
mendengarnya dari Kyungsoo. Bukankah dia yang memulai semua ini?” jawab Joohyun
sambil melirik ssaem yang masih sama sekali tak mau melihatnya. Mengapa aku
harus berada dalam pembicaraan seperti ini? Dadaku mulai sesak karena menahan
emosi cukup lama. Apa mereka tidak sadar akan kehadiranku?
“Jamkkanman…siapa
gadis imut yang di sebelahmu ini?” ujar temannya sambil menunjuk ke arahku.
Akhirnya ada yang sadar juga dengan kehadiranku di antara mereka…
“Perkenalkan ini
Yoo Hana, pacarku…” jawabnya dengan semangat layaknya memamerkan barang yang
begitu berharga.
Tanpa sengaja
kulirik wajah Joohyun yang terlihat tidak senang dengan jawaban yang diberikan
Kyungsoo. Wajah menyebalkan yang sama seperti yang ditunjukkan adiknya padaku.
“Aigoo, neomu
gwiyeowo…”
“Kau masih terlihat
sangat muda, ya? Berapa umurmu?”
Sekarang aku sudah
berada di tengah kerumunan teman-teman ssaem yang penasaran akan diriku. “Aku…umurku
18 tahun…”
“Ah, pantas saja kau
terlihat sangat menggemaskan! Bagaimana kau bisa bertemu dengan Kyungsoo? Apa
jangan-jangan kau muridnya?”
“Bukankan sekolah
melarang hubungan antara guru dan murid?” bisik salah satu dari mereka.
Bagaimana aku harus
menjawab pertanyaan mereka? Do Kyungsoo, segera lakukan tugasmu… Mengapa kau
hanya diam mematung disana?
“Apa kalian baru
saja melihat salah satu member girlband? Yah…Park Chanyeol. Mengapa kau berdiri
begitu dekat dengan pacarku, eoh? Apa kau mau mati?” canda Kyungsoo yang dengan
sigap memiting temannya yang memang daritadi berdiri terlalu dekat denganku.
“Hati-hati dengan
Kyungsoo. He’s known as Mr. Pervert!” ledek Chanyeol yang membuat Kyungsoo
semakin mempererat pitingannya. Ledekan Chanyeol sontak membuat kelompok itu
tertawa terbahak-bahak.
Setelah penyambutan
yang cukup heboh oleh teman-teman Kyungsoo, kami pun mulai dibagi menjadi
beberapa kelompok secara acak untuk mengerjakan beberapa tugas agar semuanya
siap nanti malam. Entah mengapa dewi fortuna tidak bersamaku kali ini, aku dipasangkan
dengan Bae Joohyun. Namun ketidakberuntunganku tak berhenti lama ketika dua
nama selanjutnya dibacakan untuk masuk ke kelompok kami – Park Chanyeol dan Do
Kyungsoo. Kami ditugaskan untuk membeli seafood dan bahan makanan untuk bbq
nanti malam. Segera setelah semua berpencar, aku pun tenggelam dalam pikiranku
sendiri. Apakah semua akan berjalan dengan lancar hari ini?
***
“Suzy banyak
bercerita tentangmu, Hana-ssi,” ungkap Joohyun membuka percakapan kami.
Kyungsoo dan Chanyeol sedang sibuk memilih udang dan kepiting di dalam kedai
sementara aku tidak tertarik untuk ikut ambil bagian disana. Lagipula aku juga
tidak pandai dalam memilih-milih mana yang baik. Herannya Joohyun tidak ikut ke
dalam, namun terus menempeliku yang sedang duduk bersandar di depan mobil.
“Ternyata apa yang
dikatakan Suzy benar juga… Kau terlihat…sangat biasa,” lanjutnya dengan sinis,
memandangiku dari ujung kaki hingga ujung rambut. Aku yang mulai risih
dibuatnya pun membuang muka, menandakan aku tidak tertarik akan pembicaraan
ini. Namun mungkin Joohyun tidak sepintar yang dikatakan adiknya, ia malah
terus berbicara padaku.
“Kyungsoo akan
meninggalkanmu, Hana-ssi. Setelah ia menggunakanmu, kau akan dicampakkan.
Selera Kyungsoo bukanlah sepertimu. Aku yakin ia hanya kesepian, atau
mungkin…kau hanyalah pelariannya. Siapa yang tahu?”
Pelarian Kyungsoo?
Mengapa semuanya berbicara seperti itu terhadapku? Apakah aku sangat tidak
pantas bersanding dengan ssaem? Aku yakin bahwa ssaem benar-benar mencintaiku,
bukan hanya ingin menggunakanku saja seperti yang baru saja Joohyun katakan.
“Geumanhaeyo,
Joohyun-ssi. Aku tidak ingin mendengar lebih banyak lagi omong kosong darimu,”
balasku tak mau menatapnya.
“Waeyo? Apa kau
takut bahwa omong kosongku barusan ternyata adalah sebuah kenyataan? Apa kau
lupa bahwa Kyungsoo terkenal dengan panggilan Mr. Pervert? Byuntae Kyung?”
Mworago?! Byuntae
Kyung?! Memang benar tadi aku sempat mendengar salah satu temannya berbicara
seperti itu, namun kukira itu hanyalah sebuah candaan. Apakah ini benar? Malam
itu…saat ssaem mendekatiku di mobil dan berusaha untuk menciumku… Seolma! Ssaem
bukanlah pria seperti itu!
“Apa kau tidak
penasaran apa yang sudah Byuntae Kyung lakukan padaku, Hana-ssi? Kami
berpacaran hampir dua tahun. Tidak mungkin seorang Byuntae Kyung tidak pernah
menyentuhku, bukan?”
Apa-apaan dia?!
Mengapa dia terus berbicara seperti itu?! Apakah dia tidak bisa berhenti?! Aku
tidak mau lagi mendengar apapun dari mulut wanita ini!
“Hana-ssi, aku
berbicara padamu sebagai seorang teman. Jangan sampai kau menyesal nantinya.
Ah! Kurasa mereka sudah selesai membeli seafood! Pikirkan baik-baik, Yoo
Hana-ssi…”
Aku menelan ludah
dengan cemas. Aku tidak boleh membiarkan kata-kata dari mulut wanita jahat itu
meracuni pikiranku – bahkan kepercayaanku pada ssaem.
“Yoo Hana-ssi,
gwaenchanhayo?” Aku menoleh ke arah yang memanggilku dengan suara beratnya.
Park Chanyeol?
“Kau terlihat tidak
begitu bersemangat. Apa kau tidak bisa beradaptasi dengan kami?” tanyanya lalu
melompat duduk di sebelahku. Aku sedang duduk di pekarangan villa sambil
memandangi ombak yang tanpa lelah menyapu pasir. Ssaem sedang berenang bersama
teman-temannya. Aku tidak bisa ikut karena sedang datang bulan dan ssaem sangat
menyayangi hal itu.
“A… Aniyo…”
“Ah… Geurom, mengapa
kau tidak ikut berenang bersama mereka?”
“Aku…sedang datang
bulan…”
“Aigoo… Bulsanghan
kangaji…”
“Bagaimana
denganmu, Chanyeol-ssi? Mengapa kau tidak ikut berenang?”
“Kulitku sensitif
terhadap air laut. Jika terkena sedikit saja, kulitku akan memerah lalu
mengelupas. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi pada kulitku yang sudah
kujaga bertahun-tahun ini.”
Pfft. Dia terlalu
banyak bicara. Tapi setidaknya dengan kehadiran Chanyeol disini, aku tidak akan
terlihat seperti orang bodoh.
“Eum… Chanyeol-ssi.
Apa aku boleh bertanya?”
“Tentu saja.
Waeyo?”
“Byun…tae…kyung…?
Apa benar Kyungsoo seperti itu?”
“Apa kau khawatir
akan dirimu?” Wajah Chanyeol berubah serius, membuatku sedikit tegang. Aku
tidak menjawabnya, malah menunggu balasan Chanyeol selanjutnya.
“Byuntae Kyung
hanyalah julukan dariku untuknya. Itu karena aku pernah menemukan majalah
dewasa terselip di rak bukunya ketika high
school dulu. Setelah dipikir-pikir, wajar saja jika seorang anak lelaki
mengoleksi majalah seperti itu – yang culun seperti Kyungsoo pun. Julukan itu
terus terbawa hingga sekarang. Namun ia bukan pria seperti itu. Tenang saja,
Hana-ssi. Aku lihat, Kyungsoo benar-benar mencintaimu dan aku yakin ia akan
menjaga dan melindungimu.”
Seketika setelah
mendengar balasan Chanyeol, hatiku begitu lega. Rasanya beban yang daritadi
kutahan hilang seketika dari pikiranku. Aku merasa sedikit bersalah karena
sempat meragukan ssaem. Seharusnya aku tak membiarkan si ular Joohyun meracuni
pikiranku. Dari jauh aku melihat ssaem sedang berjalan ke arah kami. Aku segera
bangkit dan berlari sekencang-kencangnya, tak peduli aku menginjak apa – lalu
melompat ke tepat ke pelukannya. Ssaem yang kaget sontak menahan berat tubuhku
dengan kedua tangannya. Dapat kurasakan tubuhnya yang basah dari balik t-shirt
tipisku. Kupeluk erat-erat pria dalam dekapanku ini seakan tak ingin membiarkannya
jatuh ke tangan siapapun.
“Ahem…kurasa kalian
butuh ruangan…” ujar Chanyeol sambil menaikkan sebelah alisnya pada ssaem,
disambut dengan mata ssaem yang melotot tajam ke arahnya. Mereka terus saling
mengejek sebelum akhirnya ssaem menyerah – mungkin karena tak tahan lagi
menopang berat tubuhku – lalu pergi meninggalkan Chanyeol menuju ke dalam
villa.
Aku melipatkan
tubuhku di samping ssaem, bersandar sangat dekat dengan jantungnya hingga aku
dapat mendengar setiap detakan yang muncul dari sana. Dapat kucium aroma
vanilla yang lembut dari balik t-shirt
yang ia pakai.
“Apa ada yang ingin
kau sampaikan, eoh?” tanyanya sambil menggosokkan jari telunjuknya yang lembut
di pipiku.
“Saranghaeyo, Do
Kyungsoo… Kau harus berjanji untuk terus melindungi dan menjagaku, eoh?
Ddeonajima…” jawabku lalu mendongakkan kepalaku hingga pandangan mata kami
bertemu.
“Yes, my Queen. Aku
janji tidak akan pernah meninggalkanmu… Apa yang membuatmu tiba-tiba berbicara
seperti ini?”
“Aku hanya ingin
mengucapkannya…” dustaku.
“Kau masih saja
ingin menyembunyikannya? Aku tahu tadi sore saat aku dan Chanyeol sedang sibuk
memilih seafood, kau sedang berbicara dengan Joohyun. Apa yang ia katakan
padamu, eoh?”
“Hal-hal yang tidak
menyenangkan…”
“Seperti?”
“Mengapa kau begitu
ingin mengetahuinya?”
“Karena aku
pacarmu. Aku harus tahu apa yang wanita itu katakan padamu…” balas ssaem sambil
menarik pipiku keras-keras.
“Yah! Geuman!
Apha!” Aku berpindah beberapa sentimeter darinya lalu mengambil posisi nyaman
untuk duduk.
“Malhaebwa…”
“Ia mengatakan
soal…byun…tae…kyung…” jawabku tertunduk karena malu. Mendengar hal itu, pria di
hadapanku ini mulai tertawa terkekeh kemudian terbahak-bahak. Aku yang
kebingungan melihat tingkahnya hanya tertawa canggung kemudian memperhatikannya
sampai ia lelah lalu berhenti.
“Apa kau takut
dengan Byuntae Kyung?” ujarnya tiba-tiba dengan ekspresi menggoda sambil
memainkan kedua alis tebalnya.
“Museun mariya?”
Aku terbelalak melihat pria di hadapanku yang mulai mendekatkan tubuhnya
kepadaku. Ia semakin maju hingga aku sepenuhnya terbaring di atas sofa. Kedua
tangannya berada di sisi kepalaku, menjebak tubuhku hingga aku tak bisa
bergerak. Dari bawah sini, wajah ssaem terlihat sangat tampan. Jauh lebih
tampan dari biasanya. Hatiku berdetak tidak karuan ketika ia tubuhnya mulai
menindih tubuhku, menyalurkan kehangatan dari kulitnya ke seluruh saraf di permukaan
kulitku. Nafasnya yang lembut menyapu wajahku, membuatku lupa sejenak untuk
menarik nafas. Bibirnya yang hangat perlahan menyentuh permukaan bibirku,
meninggalkan rasa nikmat yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku tak bisa
lagi menahan diri untuk membalas ciumannya. Udara di sekitar kami mulai memanas
seiring dengan kurangnya oksigen yang dapat kuhirup karena Kyungsoo terus saja
menciumku, tak memberiku cela sama sekali untuk menarik satu nafas saja. Ciumannya
mulai menjalar ke sisi leherku yang membuatku kegelian. Entah apa yang ia
lakukan pada leherku, aku merasakan sakit yang singkat ketika ia mengecupnya. Desahan
kecil keluar dari bibirku. Apakah ia meninggalkan bekas disana? Ssaem berlaku
tidak seperti dirinya sekarang. Namun aku percaya bahwa ia akan menjaga dan
melindungiku. Dan kini ia sudah berhenti dan memandangiku dari atas sambil
tersenyum lembut.
“Aku akan
menunggumu sampai kau siap, Yoo Hana. Dan sampai saat itu, kau harus berhenti
menggodaku, eoh? Atau Byuntae Kyung ini akan kembali marah! Hahaha!” ujarnya lalu
mencium keningku.
Kata-kata yang
diucapkannya instan membuatku tersenyum dan segera melompat ke pelukannya. “Jika
kau menyerah saat itu, kita tidak akan pernah seperti ini. Tidak akan ada Do
Kyungsoo dan Yoo Hana seperti sekarang ini. Gomawo, Kyungsoo-ya. Kau sudah rela
menungguku, bersabar menghadapiku, mencintaiku sedalam ini…”
“Saranghae, Yoo
Hana…” bisiknya lalu kembali mencium bibirku lembut.
“Nado saranghae, Do
Kyungsoo…”
***
No comments:
Post a Comment